Peluk
Gaza muncul di depan pintu kontrakanku sore itu, masih pakai seragam SMA yang kusut, dasi longgar, kancing atas terbuka dua biji.
Teman-temanku yang lagi ngerokok di teras langsung saling lirik.
“Anjing, lo ngapain bawa bocil SMA ke sini?” bisik Dika sambil nyengir mesum.
Aku cuma geleng kepala, “Udah, diem. Dia temen.”
Mereka nggak tahu ceritanya. Aku kenal Gaza dari TikTok. Awalnya cuma komen-komen di video yang sama—ngomongin kesepian, ngomongin badan yang nggak pernah cukup disentuh, ngomongin malam-malam yang panjang dan dingin meski di bawah selimut.
Lama-lama chat berpindah ke DM, lalu voice note, lalu video call sampai subuh.
Dia bilang aku satu-satunya orang yang ngerti tanpa menghakimi. Aku nggak yakin aku ngerti, tapi aku suka didengerin.
Pas ketemu langsung, matanya langsung basah. Bukan nangis, cuma berkaca-kaca kayak orang yang lama nahan sesuatu.
Aku langsung tarik tangannya masuk, lewatin temen-temen yang masih pada bengong, terus bawa ke kamar.
“Seragam lo besok masih dipake kan? Lepas aja, taruh hanger,” kataku sambil buka lemari.
“Masa aku shirtless gitu?” tanyanya, suaranya kecil tapi ada nada genit yang bikin perutku bergetar.
Aku ambil kaos oblong hitamku yang paling longgar, lempar ke dia.
“Pake ini dulu.”
Dia ganti di depanku tanpa malu-malu. Badannya ramping, kulitnya putih pucat, tulang selangkanya menonjol.
Mirip aku waktu kelas dua SMA dulu. Aku pura-pura sibuk buka laptop, padahal mataku sesekali nyelonong ke arahnya.
Aku rebahan di kasur sambil ngerjain tugas analisis data yang udah deadline kemarin. Dia duduk di pinggir kasur, diam lama. Tiba-tiba,
“Kak.”
“Hm?”
“Boleh peluk?”
Aku nengok. Matanya polos tapi lapar.
“Peluk?”
“Iya.”
“Boleh.”
Dia langsung selonjoran, melingkarkan tangan di pinggangku dari samping. Tubuhnya hangat.
Aku balik badan, sekarang kami saling berhadapan. Kepalanya langsung nyaman di dadaku, napasnya pelan-pelan nyentuh putingku lewat kaos tipis.
“Kenapa pengen dipeluk?” tanyaku pelan.
“Gpp. Pengen aja.”
Aku peluk dia lebih erat. Rasanya seperti memeluk adik yang nggak pernah aku punya.
Tapi juga ada yang lain—getaran kecil di selangkangan yang aku coba abaikan.
Beberapa menit diam. Lalu dia ngomong lagi, suaranya bergetar.
“Gimana kalau kakak lepas kaos aja?”
Aku nahan napas. “Ha?”
“Biar lebih hangat,” katanya cepat, tapi telinganya merah.
Aku tarik napas dalam, lalu lepas kaosku. Dadaku sekarang telanjang, dia langsung mendesah pelan, seperti orang yang akhirnya dapat apa yang ditunggu-tunggu.
Tangannya meraba pelan, nggak nakal, cuma ingin tahu. Jari-jarinya dingin menyentuh kulitku yang panas.
Aku peluk dia lagi, kali ini kulit ke kulit. Dadanya rata menempel di dadaku, jantungnya berdegup kencang.
Aku bisa ngerasain ereksinya pelan-pelan mengeras di balik celana seragam, menekan pahaku.
Aku juga begitu. Keras. Basah di ujung. Tapi kami nggak gerak lebih jauh.
Cuma pelukan.
Dia sesekali menggeser badan, mencari posisi yang lebih dalam, lebih rapat. Napasnya jadi pendek-pendek di leherku.
Aku cium ubun-ubunnya pelan, bau rambutnya anak-anak tapi juga sudah laki-laki.
“Kak… makasih,” bisiknya.
“Buat apa?”
“Buat nggak nanya kenapa aku begini.”
Aku diam. Karena aku juga nggak tahu jawabannya. Mungkin kami sama-sama lapar akan sesuatu yang nggak bisa diucapin dengan kata-kata sopan.
Mungkin kami sama-sama takut sendirian di kota ini. Mungkin pelukan ini cuma pinjaman sebentar sebelum besok dia balik ke seragam SMA-nya dan aku balik ke deadline tugas yang nggak pernah selesai.
Tapi malam itu, di kasur sempit yang bau keringat dan sabun colek, kami cuma saling peluk.
Telanjang dada, basah di selangkangan, tapi nggak saling jamah lebih jauh. Cukup hangat. Cukup penuh.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku nggak merasa kosong.

Posting Komentar untuk "Peluk"