Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Meski sudah menikah, aku akan tetap menyukainya

Aku tahu batasnya.  

Dia sudah memakai cincin di jari manis kiri, foto pernikahannya muncul di feed dengan caption sederhana yang bikin orang-orang berdecak kagum: “Alhamdulillah sah.” 

Aku scroll cepat, pura-pura tak peduli, tapi jantungku tetap berdegup seperti dulu—lambat, dalam, dan sedikit basah.

Namanya masih sama di kepalaku: dia.  

Bukan nama lengkap yang orang-orang panggil di komentar. Bukan juga panggilan sayang istrinya yang manis-manis itu. 

Cuma “dia”. Kata pendek yang beratnya seribu kilo di dada.

Dulu, sebelum cincin itu ada, aku sering membuka galeri ponsel malam-malam. 

Foto shirtless-nya yang diambil di pantai tahun 2019—cahaya matahari sore membuat otot perutnya terlihat seperti diukir pelan-pelan, garis V di pinggulnya menukik tajam ke dalam celana pendek yang basah kuyup. 

Aku zoom sampai pori-porinya kelihatan. Jari-jariku bergerak sendiri. Napasku pendek-pendek.  
Aku bayangkan tanganku yang menyusuri lekuk itu, bukan angin laut. 

Bayangkan bibirnya yang selalu tersenyum ramah itu membuka sedikit, mengucap namaku pelan, bukan nama Tuhan atau istrinya nanti.

Aku keluar. Keras. Lengket.  
Lalu langsung menutup galeri, mematikan ponsel, menatap langit-langit kamar kos yang retak-retak. 

Rasa bersalah datang terlambat tapi pasti, seperti air comberan yang naik setelah hujan deras.
  
“Harusnya enggak gini,” bisikku pada diri sendiri. “Dia enggak pantas cuma jadi bahan coli.”

Tapi tubuhku tidak peduli logika.  
Tubuhku ingat aroma sabun mandi yang pernah tercium samar-samar waktu kami ke gym bareng. 

Ingat cara dia menyeka keringat di leher dengan punggung tangan, gerakan yang polos tapi entah kenapa bikin lututku lemas. 

Ingat suaranya yang rendah waktu baca puisi Rumi di grup WhatsApp—suaranya yang hangat, yang bikin orang merasa dipeluk meski cuma lewat teks.

Sekarang dia menikah.  
Aku tidak cemburu pada istrinya. Aku cuma iri pada waktu yang dia habiskan bersamanya. 

Iri pada pagi-pagi yang dia bangun lebih dulu untuk membuatkan kopi. Iri pada malam-malam ketika dia tidur dengan tangan melingkari pinggang orang lain, bukan melingkari udara kosong seperti yang aku lakukan setiap kali memikirkan dia.

Aku tetap membaca tulisannya.  
Thread-thread panjang tentang filsafat, tentang luka yang tak terucap, tentang Tuhan yang kadang terasa jauh. 

Aku baca sambil tersenyum kecil, karena di balik kata-kata pintar itu aku masih bisa melihat dia—cowok yang dulu pernah tertawa lepas waktu aku cerita lelucon receh, cowok yang pernah bilang “lo orangnya hangat” sambil menepuk pundakku sekali, tepukan yang sampai sekarang masih terasa di kulit.

Aku tahu dia straight.  
Aku tahu garis itu tak akan pernah kutembus.  

Tapi aku juga tahu, di suatu sudut kecil yang tak pernah dia sadari, aku tetap mengaguminya. 

Bukan lagi dengan nafsu yang liar seperti dulu, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih sakit, lebih lembut—cinta yang tak butuh balasan, yang tak butuh sentuhan, yang hanya ingin melihat dia bahagia meski bahagianya bukan bersamaku.

Malam ini aku membuka foto lamanya lagi.  
Bukan yang shirtless.  
Foto biasa: dia tersenyum ke kamera, rambut sedikit berantakan, mata cokelatnya penuh cahaya. Aku menatap lama.  

Tak ada tangan yang bergerak ke bawah.  

Hanya air mata yang jatuh pelan ke layar, membasahi wajahnya yang tersenyum itu.

Aku bisik, hampir tak terdengar:  
“Selamat, bro. Semoga kamu selalu hangat seperti yang aku ingat.”

Posting Komentar untuk "Meski sudah menikah, aku akan tetap menyukainya"