Aku Suka Aroma Tubuhmu
Di kamar kos lantai dua itu, sore selalu datang dengan cara yang sama: cahaya jingga masuk lewat balkon terbuka, angin membawa suara motor dari jalan kecil, dan handuk basah digantung asal di pagar besi.
Bams duduk di kursi plastik, setengah rebahan, sambil scroll ponsel. Hidungnya tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh—bukan aneh dalam arti buruk. Justru sebaliknya.
Alfred baru keluar dari kamar mandi dalam. Rambutnya masih lembap, kaus abu-abu polos menempel santai di badan. Tidak ada parfum.
Tidak ada deodorant beraroma keras. Tapi ada sesuatu di udara. Bersih, hangat, dan entah kenapa bikin Bams berhenti scroll.
“Fred,” kata Bams, menurunkan ponsel. “Lu habis pakai apa?”
Alfred mengangkat alis. “Air. Sabun. Sama niat hidup yang lurus.”
“Bukan itu,” Bams mendekat sedikit, lalu tertawa sendiri karena sadar betapa aneh kalimat berikutnya. “Bau badan lu… enak.”
Alfred berhenti mengeringkan rambut. Senyum kecil muncul, bukan senyum pamer, lebih ke senyum orang yang sudah sering dengar tapi jarang ditanya. Ia duduk di tepi ranjang, menghadap balkon yang terbuka. Angin masuk, aroma itu makin terasa, tipis tapi konsisten.
“Itu bukan bau badan,” katanya. “Itu aroma tubuh.”
Bams mengerutkan kening. “Bukannya sama aja?”
“Kayak kopi sama ampasnya,” jawab Alfred tenang. “Mirip, tapi beda fungsi dan nasib.”
Alfred menjelaskan pelan, seolah sore itu memang diciptakan untuk obrolan setengah ilmiah. Bau badan, katanya, muncul ketika keringat ketemu bakteri dan hidupnya tidak rukun. Kurang bersih, stres numpuk, makan sembarangan—jadilah konflik kimia.
Aroma tubuh beda cerita. Itu sinyal alami, dipengaruhi hormon, genetik, dan gaya hidup yang tidak berisik.
“Gue nggak nutup aroma ini pakai parfum,” lanjutnya. “Kalau ditutup, hilang karakternya. Kayak orang dipaksa pakai topeng wangi.”
Bams menyandarkan punggung ke dinding. Ia ingat betapa seringnya orang berlomba-lomba jadi wangi, sampai lupa jadi sehat. Alfred tidak terlihat berusaha. Tidurnya cukup, makannya sederhana, olahraga secukupnya. Tidak lebay. Tidak sok maskulin. Tapi justru itu yang terasa.
“Jadi ini… maskulin?” tanya Bams setengah bercanda.
“Bukan pamer,” kata Alfred. “Ini efek samping tubuh yang dirawat. Maskulinitas itu bonus, bukan target.”
Matahari turun perlahan. Dari kamar mandi dalam, tetesan air terakhir berhenti.
Kamar kos kembali sunyi, kecuali suara kipas dan napas yang terasa lebih ringan. Bams tersenyum kecil. Ia sadar, daya tarik tidak selalu datang dari yang keras dan mencolok.
Kadang ia datang pelan, lewat balkon terbuka, lewat aroma yang jujur, lewat tubuh yang berdamai dengan dirinya sendiri.

Posting Komentar untuk "Aku Suka Aroma Tubuhmu"