Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teman SMA Ku


Adit membaca pesan itu jam setengah sepuluh malam, jantungnya langsung berdegup seperti remaja yang baru pertama kali diajak pacaran. 

Ia langsung mengetik balasan singkat: “Gila, serius? Gue ke sana ya malem ini.” 

Tanpa menunggu jawaban panjang, ia sudah berdiri di depan kamar tidur, mengetuk pintu pelan.

“Yank… gue mau ketemu Zaldi. Dia lagi di Bandung. Gue nginep di sana ya, besok sore pulang.”

Lina, istrinya, hanya menatap dari balik selimut. Matanya sudah tahu segalanya sejak sepuluh tahun lalu, tapi mulutnya tetap diam seperti biasa. 

“Hati-hati di jalan,” katanya datar. 

Itu saja. Tak ada cemburu yang meledak, tak ada teriakan. Hanya diam yang lebih menyakitkan daripada tamparan.

Adit tiba di apartemen Zaldi hampir jam dua belas malam. Zaldi membukakan pintu dengan kaos oblong longgar dan celana pendek olahraga. 

Mereka berpelukan lama di ambang pintu, seperti dua orang yang takut kalau dilepas akan hilang selamanya.

“Gendut lo sekarang,” canda Zaldi sambil mencubit pinggang Adit.

“Lo masih sixpack sampe sekarang, anjing. Benci gue liatnya.”

Zaldi tertawa, suaranya masih sama seperti dulu waktu mereka bolos pelajaran kimia untuk ngopi di warung belakang sekolah. 

Mereka masuk, pintu ditutup pelan. Lampu ruang tamu diredupkan. Hanya lampu tidur di kamar yang menyala kuning temaram.

Adit langsung rebahan di kasur king size Zaldi, menepuk tempat di sampingnya. 

“Sini, tidur bareng kayak dulu.”

Zaldi menggeleng sambil nyengir. 

“Lo udah punya istri, bro.”

“Emang kenapa? Ini cuma pelukan temen lama. Kangen doang.”

Zaldi mendengus, tapi tetap naik ke kasur. Ia membelakangi Adit, pura-pura mau tidur. 

Tapi Adit langsung merangkul dari belakang, dada menempel punggung, tangan melingkar di perut Zaldi yang masih rata. Napas Adit panas di tengkuk Zaldi.

“Adit…” suara Zaldi setengah memperingatkan, setengah geli.

Tangan Adit naik perlahan, menyusup ke balik kaos, menyentuh dada yang hangat. 

Jempol dan telunjuknya menemukan puting yang sudah mengeras karena udara dingin AC. 

Ia memelintir pelan, seperti dulu waktu mereka masih SMA dan pura-pura main gulat di kamar kos Zaldi.

Zaldi menggelinjang, tapi tak benar-benar menolak. 

“Inget istri lo di rumah, bro…”

“Jangan ngomongin dia sekarang,” potong Adit cepat. Suaranya bergetar. 

“Malem ini cuma kita berdua. Kayak dulu.”

Zaldi diam. Ia tahu Adit sedang lari dari sesuatu. Mungkin dari rutinitas rumah tangga yang makin hambar, mungkin dari cermin yang setiap pagi menunjukkan perut buncit dan uban di pelipis. 

Atau mungkin dari rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang sejak ia memilih menikah demi “normal”.

Tangan Adit terus menjelajah. Menyusuri lekuk pinggang, turun ke perut, lalu masuk ke dalam celana pendek. 

Zaldi sudah setengah tegang. Adit tersenyum kecil di kegelapan.

“Lo masih gampang banget ngacengnya,” bisik Adit.

“Lo yang mulai duluan, bajingan.”

Mereka tak bicara banyak lagi. Adit menarik celana Zaldi turun, membalikkan tubuh sahabatnya itu hingga mereka berhadapan. 

Ciuman pertama datang kasar, penuh lapar yang sudah lama dipendam. Gigi bertemu gigi, lidah saling mengejar. Bau bir sisa dan parfum murah bercampur keringat.

Adit menelusuri leher Zaldi dengan bibir, meninggalkan bekas merah kecil. Turun ke dada, mengisap puting yang tadi dipelintir. 

Zaldi mengerang pelan, tangannya mencengkeram rambut Adit. 

“Pelan… anjing… lo bikin gue malu.”

“Malu apa? Di sini cuma gue yang denger.”

Adit terus turun. Menjilati garis perut yang masih terdefinisi, lalu sampai ke selangkangan. 

Ia menelan Zaldi perlahan, penuh perhatian, seperti orang yang sedang mengenang sesuatu yang pernah hilang. 

Zaldi menggelinjang, pinggulnya terangkat sendiri. “Adit… fuck… lo gila…”

Tak lama kemudian Adit naik lagi. Mereka saling menatap dalam diam. Mata Zaldi basah, bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang lebih dalam—rasa syukur, rasa takut kehilangan, rasa marah yang tak pernah diucapkan.

“Lo tahu gue selalu nunggu lo, kan?” bisik Zaldi.

Adit tak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk, lalu memosisikan diri. Pelan, sangat pelan, ia masuk. 

Zaldi menggigit bibir bawahnya sendiri. Adit bergerak lembut, hampir seperti takut kalau terlalu keras akan memecahkan sesuatu yang rapuh di antara mereka.

Mereka bercinta tanpa kata-kata kotor yang berlebihan. Hanya desah, hanya napas tersengal, hanya nama masing-masing yang terucap pelan seperti doa. 

Adit menatap wajah Zaldi sepanjang waktu—wajah yang dulu menyelamatkannya dari kesepian, wajah yang tetap setia meski Adit memilih jalan lain.

Saat klimaks datang, Adit menempelkan dahi ke dahi Zaldi. Tubuh mereka bergetar bersama. 

Cairan hangat membasahi perut Zaldi. Mereka diam lama, masih saling memeluk, tak mau melepaskan.

Pagi harinya Adit bangun lebih dulu. Zaldi masih tertidur dengan wajah damai. 

Adit menatapnya lama, lalu mencium kening sahabatnya itu pelan.

Ia tahu ia akan pulang nanti. Ke rumah, ke Lina, ke rutinitas yang membosankan. 

Tapi malam ini—malam ini adalah milik mereka berdua. Sekali lagi, seperti dulu, sebelum Adit memilih menjadi suami, sebelum Zaldi belajar pura-pura tak peduli.

Adit mengambil ponsel, mengetik pesan singkat ke Lina:

“Gue pulang sore ini. Maaf.”

Ia tak menunggu balasan. Ia hanya menatap Zaldi sekali lagi, lalu berbisik pada dirinya sendiri:

“Gue nggak pernah benar-benar pergi dari lo.”

Kata-kata itu terasa vulgar, terasa kotor, tapi juga terasa paling jujur yang pernah ia ucapkan dalam sepuluh tahun terakhir.

Posting Komentar untuk "Teman SMA Ku"