Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Es Krim Daging Favoritku



Kontol kuli emang gak pernah ngecewain. Keras, tebel, berurat, dan pas banget di mulut. 

Aku sudah tahu itu sejak pertama kali melihatnya turun dari mobil pick up pengangkut pasir laut.

Siang itu panas menyengat. Tubuhnya yang berotot basah keringat, kulit eksotisnya mengkilap di bawah matahari. 

Dia mengangkat sekop demi sekop pasir basah, otot lengannya menegang, punggungnya lebar dan kokoh. 

Aku memperhatikan dari kejauhan, nafsu sudah menggelegak di perut. Setelah semua pasir turun, dia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan.

Aku mendekat, suaraku pelan tapi berani. “Mau lima puluh ribu buat liat kontolnya sebentar?”

Dia melirik aku, senyum tipis muncul di wajahnya yang kasar. Tanpa banyak bicara, dia mengangguk. 

Kami berpindah ke samping mobil pick up, agak tersembunyi dari jalan utama. Aku langsung plorotin resleting celananya. Kontolnya sudah setengah tegang, berat, panjang, dan tebal. 

Uratsnya menonjol jelas, kepala jembutnya besar dan gelap. Aku menggenggamnya pelan, merasakan panas dan denyutnya.

“Gede banget,” bisikku gemas.

Aku belai-belai batangnya yang tebal, jari-jariku menjelajahi setiap urat yang menonjol. Kontol itu semakin keras di tanganku, membesar sampai sulit digenggam penuh. 

Aku mengocok pelan dulu, menikmati beratnya. Bau keringat tubuhnya yang maskulin bercampur aroma pasir laut membuat kepalaku pusing keenakan.

Aku berlutut di depannya. Mulutku langsung menyambut kepala kontolnya yang sudah basah oleh precum. Aku hisap pelan, lidahku menari di sekelilingnya. Rasanya asin, panas, dan sangat nyaman. 

Aku dorong lebih dalam, sampai tenggorokanku terasa penuh. Kontol tebal itu memenuhi mulutku sempurna. 

Aku kepalkan tangan di batangnya yang tersisa, mengocoknya sambil mengisap kuat-kuat.

Dia mendengus, tangannya memegang kepalaku. “Enak banget mulut lo,” geramnya parau.

Aku semakin semangat. Kepalaku maju mundur, air liurku menetes-netes membasahi kontolnya yang sudah licin. Aku hisap lebih dalam, menelan hampir separuhnya, lalu keluar lagi dengan bunyi kecap yang mesum. 

Tangan kiriku meremas buah zakarnya yang berat dan penuh, sementara tangan kananku terus mengocok batang yang basah.

Kontolnya semakin berdenyut keras. Aku tahu dia sudah di ujung. Aku percepat gerakan, mengocoknya kasar sambil terus menyedot kepalanya. Dia menggeram panjang, pinggulnya maju. 

Sperma kentalnya muncrat deras, menyembur ke wajahku. Panas, lengket, dan banyak. Beberapa cipratan mendarat di pipi, bibir, bahkan mata. 

Aku membuka mulut, menjilat yang bisa kujilat, menikmati rasa asin pahitnya.

Dia bernapas kasar, kontolnya masih berdenyut di depan wajahku yang belepotan spermanya. Aku tersenyum puas, mengusap sisa cairan di daguku.

Dia menarik celananya naik, merapikan sabuk. Tanpa kata banyak, dia naik ke pick up, mesin menyala. Mobil itu bergerak meninggalkan aku yang masih berlutut di tanah, wajah basah, dan kontol tebalnya yang baru saja memuaskan mulutku masih terbayang jelas di pikiran.

Kontol kuli memang gak pernah ngecewain.

Posting Komentar untuk "Es Krim Daging Favoritku"