Bad Boy Kesayanganku
Di sebuah gang gelap di pinggir kota malam itu, aku bertemu dia—cowok bad boy yang rambutnya acak-acakan, jaket kulit lusuh, dan tatapannya seperti serigala lapar.
Bau tubuhnya langsung menyengat hidungku: campuran keringat asin, rokok, dan aroma maskulin alami yang bikin kontolku langsung berdenyut.
Dia bukan tipe bersih, tapi justru itu yang aku suka. Liar. Berantakan. Berbahaya.
“Kau kelihatan lapar,” katanya dengan suara serak, tangannya langsung meraih pinggangku dan menarikku ke dada bidangnya yang keras.
Aku tidak melawan. Malah aku mendesah pelan saat bibirnya menyambar leherku, giginya menggigit kulitku kasar hingga meninggalkan bekas merah.
Kami masuk ke kamar kosong di belakang bar. Pintu dibanting keras. Dia tidak buang waktu.
Jaketnya dilempar sembarangan, kaosnya disobek begitu saja. Tubuhnya penuh tato, dada berbulu tipis, dan keringat sudah mengkilap di kulitnya.
Bau badannya semakin kuat saat dia mendekat, membuat kepalaku pusing karena nafsu.
“Berlutut,” perintahnya kasar.
Aku patuh. Celananya diturunkan, dan kontolnya langsung melompat keluar—besar, tebal, urat-uratnya menonjol, kepala kontolnya sudah basah oleh precum yang lengket.
Bau kontolnya pekat, maskulin, campuran amis dan keringat. Aku langsung menelan dalam-dalam, lidahku menjilati batangnya yang berdenyut.
Dia mengerang kasar, tangannya mencengkeram rambutku dan mendorong kepalaku maju mundur dengan kasar, membuat kontolnya nyaris menyumbat tenggorokanku.
“Hisap lebih dalam, jalang,” desisnya.
Air liurku menetes deras. Kontolnya semakin keras di mulutku. Setelah puas, dia menarikku berdiri, membalikkan tubuhku, dan mendorongku membungkuk di atas meja reyot.
Celanaku diturunkan kasar hingga ke lutut. Pantatku terbuka lebar. Dia meludah ke lubang anusku, lalu jarinya yang kasar langsung menusuk masuk, mengaduk-aduk dengan brutal.
“Longgar banget lubangmu ini,” katanya sambil tertawa rendah. “Sudah sering dikontolin ya?”
Aku hanya mendesah. Tubuhku gemetar saat dia menempelkan kepala kontolnya yang besar ke lubang anusku.
Tanpa aba-aba, dia mendorong masuk dengan satu hentakan keras.
Kontolnya membelah dinding anusku yang rapat, membuatku menjerit campur nikmat.
Rasa perih bercampur kenikmatan yang gila. Dia tidak pelan. Langsung menggoyang pinggulnya dengan kasar, kontolnya keluar masuk dalam irama brutal, menghantam prostatku berulang kali.
“Enak, bangsat? Lubangmu ngisep kontolku kayak pelacur!” erangnya sambil menampar pantatku keras hingga memerah.
Aku hanya bisa mengerang panjang, “Iya… lebih kasar… entot aku!”
Dia semakin buas. Tangan kirinya mencengkeram pinggangku, tangan kanannya meraih kontolku yang sudah layu karena nikmat berlebih dan memompa kasar.
Setiap hentakan kontolnya di lubang anusku membuat tubuhku berguncang.
Aku merasakan lubangku dikoyak lebar, daging di dalamnya diremas-remas oleh batang kontolnya yang tebal.
Desahanku semakin liar. Kontolku yang layu tiba-tiba berdenyut hebat. Aku tidak bisa menahan lagi. Tanpa disentuh benar-benar, cairan bening keluar dari kontolku yang lemas, lalu disusul air seni yang menyembur pelan karena nikmat yang terlalu kuat.
Aku terpipis sambil dientot, tubuhku kejang-kejang.
Dia tertawa puas. “Lihat ini, pelacur kecil… kontolmu layu tapi lubangmu masih lapar.”
Dia mempercepat hentakannya, kontolnya membesar di dalam anusku. Dengan erangan kasar, dia menyemburkan mani panasnya dalam-dalam, banjir sampai meluber keluar dari lubangku yang sudah longgar dan merah.
Kami berdua ambruk, napas tersengal. Bau keringat, mani, dan air seni bercampur di udara.
Aku tersenyum lemah. Cowok bad boy seperti dia… selalu berhasil membuatku ketagihan.


Posting Komentar untuk "Bad Boy Kesayanganku"