Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Si Atletis Lolipop Mungil



Malam itu aku akhirnya memberanikan diri datang ke kosannya setelah seminggu chat di aplikasi. 

Kami sudah sepakat hanya ingin cuddle, tidak lebih. Tapi begitu pintu terbuka, jantungku langsung berdegup kencang.

Dia berdiri di depanku hanya memakai singlet hitam ketat yang menempel sempurna di tubuh atletisnya. 

Dada bidang, lengan berotot, perut six-pack samar terlihat di balik kain tipis. 

Di sudut kamar kecilnya, deretan dumbbell, resistance band, dan matras yoga tersusun rapi. 

Bau keringat maskulin samar-samar memenuhi ruangan.

“Masuk,” katanya pelan, suaranya rendah dan lembut.

Aku duduk di tepi kasur. Badanku sendiri sebenarnya cukup bagus—perut rata, dada berisi, bokong kencang karena rutin olahraga. 

Tapi saat dia melepas singlet dan celana pendeknya, lalu berdiri telanjang di depanku, aku langsung merasa kecil.

Bukan soal tinggi badan. Soal kontolku.

Aku punya micro penis. Saat ereksi maksimal pun panjangnya cuma sekitar 4 cm, tipis, hampir seperti jari kelingking orang dewasa. 

Sudah bertahun-tahun aku hidup dengan rasa malu itu. Tiap kali telanjang di depan orang, aku selalu takut dilihat, takut diketawain, takut dianggap tidak jantan. 

Makanya aku lebih suka cuddle daripada sex—setidaknya tangan dan pelukan bisa menutupi kekurangan itu.

Dia naik ke kasur, mendekat, lalu pelan-pelan menarikku ke pelukannya. 

Tubuhnya hangat, otot-ototnya keras tapi empuk saat dipeluk. Aku menyandarkan kepala di dadanya yang bidang, mencium aroma kulitnya.

Lalu giliran aku melepas baju. Saat celana dalamku turun, kontol kecilku langsung terpampang. Aku langsung menunduk, malu.

Dia diam sejenak. Lalu perlahan melepas boxer-nya sendiri.

Aku melirik ke bawah.

Penisnya… kecil. Sangat kecil. Bahkan saat setengah tegang pun panjangnya tidak lebih dari 5 cm, bentuknya mungil seperti penis anak SD yang belum puber. 

Kepalanya kecil, batangnya pendek dan ramping. Aku hampir tidak percaya. Tubuhnya yang begitu atletis, proporsional, dan maskulin, tapi alat kelaminnya sekecil itu.

Dia melihat reaksiku, lalu tersenyum tipis, malu-malu.

“Aku juga insecure,” katanya pelan. 

“Orang-orang selalu expect cowok berbadan gini harus punya kontol gede. Padahal… ya gini. Aku bahkan jarang berani ngentot. Takut nggak memuaskan. Makanya aku lebih suka cuddle aja.”

Aku mengangguk pelan, merasa lega sekaligus aneh. Ternyata kami sama-sama membawa beban yang sama.

Kami berbaring saling berhadapan. Dia menarikku lebih dekat hingga dada kami menempel. 

Kontol kecilku menyentuh kontol kecilnya. Sensasinya hangat, lembut, tidak ada tekanan untuk “harus ereksi besar” atau “harus penetrasi”. 

Hanya kulit bertemu kulit, napas saling bercampur, tangan saling mengelus punggung.

Aku merasakan detak jantungnya yang pelan. Dia mencium keningku, lalu leherku, pelan dan penuh perasaan. 

Jari-jarinya menyusuri tulang punggungku, turun ke bokong, tapi tidak mendesak. Hanya memeluk erat.

“Kamu hangat,” bisiknya.

“Kamu juga,” balasku.

Kami tidak bicara banyak lagi. Hanya saling memeluk dalam cahaya lampu kamar yang redup. 

Dua tubuh pria yang sama-sama insecure dengan ukuran kontol mereka, tapi malam itu justru merasa diterima sepenuhnya.

Sesekali kontol kami saling bersentuhan, mengeras sedikit, tapi tidak ada yang mencoba lebih. Cuddle ini sudah cukup. Hangat. Aman. Intim.

Di pelukannya, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku tidak merasa kurang.


Posting Komentar untuk "Si Atletis Lolipop Mungil"