Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak kos idola itu masuk kamarku




Malam itu hujan deras, suara air membentur atap kos seperti genderang perang. 

Aku baru saja selesai mandi, masih pakai handuk di pinggang, rambut basah menetes ke bahu. 

Tiba-tiba ketukan pelan di pintu. Bukan ketukan biasa—lebih seperti orang yang sudah tak sabar.

Aku buka pintu sedikit. Figo berdiri di sana, kaos hitam basah keringat menempel ketat di dada, celana pendek abu-abu itu lagi, tapi kali ini tonjolan di depannya jelas sekali membengkak. Napasnya berat, matanya gelap, pupil melebar.

“Masuk boleh?” suaranya serak, hampir bisik.

Aku mundur, pintu terbuka lebar. Dia masuk, langsung tutup pintu dan kunci. Bau keringatnya langsung memenuhi kamar—asin, maskulin, bercampur sabun mandi yang masih samar. Dia berdiri dekat, terlalu dekat. Aku bisa lihat keringat mengalir di lehernya, turun ke tulang selangka.

“Aku tahu lo sering ngintip gue sore-sore,” katanya pelan, tapi tegas. “Gue lihat lo dari celah gorden. Lo coli sambil liat gue workout. Jangan bohong.”

Aku membeku. Mulut kering. Kontolku langsung bereaksi di balik handuk, mengeras cepat.

Figo melangkah maju, tangannya langsung pegang daguku, angkat wajahku supaya tatap matanya. 

“Gue lagi sange banget sekarang. Lo mau bantu gue?”

Tanpa nunggu jawaban, dia tarik handukku jatuh. Kontolku sudah berdiri tegak, kepalanya merah basah. 

Dia tersenyum kecil, lalu turun celananya sendiri. Kontolnya lompat keluar—hebat, tebal, urat-urat menonjol, kepalanya besar dan mengkilap karena precum. Panjangnya pasti lebih dari 18 cm, lurus ke atas, berat.

“Sepong,” perintahnya singkat.

Aku jatuh berlutut. Bau kontolnya langsung menusuk hidung—asin, hangat, bau cowok yang baru workout. 

Aku buka mulut, langsung masukin kepalanya. Lidahku muter di sekitar kepala, rasanya asin-manis. Figo mendesah pelan, tangannya pegang kepalaku, dorong pelan supaya masuk lebih dalam. Aku tersedak sedikit, tapi terus—mulutku penuh, air liur menetes ke dagu.

Dia tarik keluar, kontolnya basah kilat. Lalu dia angkat aku, baringkan di kasur. 

“Gue mau ngentot lo sekarang.”

Dia ambil kondom dari dompetnya—entah dari mana—pasang cepat. Pelumas dari botol kecil di saku celananya. Dia olesin ke kontolnya, lalu ke lubangku. Jarinya masuk dulu, satu, lalu dua, buka aku pelan. Aku menggelinjang, mendesah.

“Pelan…” kataku.

“Gue bakal pelan dulu,” jawabnya, tapi suaranya sudah gemetar karena horny.

Dia posisikan kepalanya di pintu masuk, dorong pelan. Rasa penuh, panas, nyeri campur nikmat. Aku gigit bantal. Dia masuk setengah, lalu tarik keluar sedikit, masuk lagi lebih dalam. Sampai akhirnya seluruh batangnya masuk, bola-bolanya nempel di bokongku.

Dia mulai gerak—pelan dulu, lalu cepat. Setiap dorongan bikin aku mendesah keras. 

“Ahh… Figo… enak banget…”

Dia langsung tutup mulutku dengan telapak tangan besarnya. 

“Sst… jangan keras-keras. Nanti temen kos denger.”

Tapi dia sendiri tak bisa pelan. Dorongannya makin keras, kasar, kasur bergoyang. Aku rasakan kepalanya menyentuh titik dalam yang bikin mata berkunang-kunang. Kontolku bergesek di perutnya yang keras, basah karena precum. Aku hampir keluar.

Figo mendesah di telingaku, “Lo ketat banget… gue mau keluar…”

Dia percepat, tangannya masih nutup mulutku. Aku mendesah tertahan, badan menegang. Kami keluar hampir bareng—cairanku menyembur ke perut kami berdua, dia menyemprot dalam kondom, badannya gemetar di atas aku.

Dia tarik keluar pelan, buang kondom, lalu rebah di sampingku. Napas kami sama-sama tersengal.

Aku memejamkan mata, masih merasakan denyut di dalam.

Lalu tiba-tiba aku tersentak bangun.

Kamar gelap. Hujan masih deras di luar. Kasur basah di selangkanganku—basah karena mimpi basah. 

Handuk masih melilit pinggang. Pintu terkunci rapat. Tak ada Figo. Tak ada bau keringat. Hanya bau sabun mandi dan spermaku sendiri.

Aku menatap langit-langit, napas masih berat.

Besok sore, dia pasti workout lagi di selasar.

Dan aku… mungkin akan ngintip lagi.

Tapi kali ini, aku harap mimpi itu jadi kenyataan.

Posting Komentar untuk "Anak kos idola itu masuk kamarku"