Ketika Kos Sepi dan Hanya Kami Berdua
Seluruh penghuni kos sudah pulang kampung sejak kemarin. Hanya tersisa kami berdua: aku dan Firly.
Kos yang biasanya ramai itu mendadak sunyi, seperti dunia milik kami berdua saja.
Sore itu, langit jingga menyusup lewat jendela kamar Firly. Aku duduk di tepi kasur ketika dia mendekat dari belakang.
Pelukannya hangat, dada bidangnya menempel di punggungku. Tanpa kata, tangannya menyusup ke bawah kaosku, jari-jarinya menemukan putingku dan memainkannya pelan.
Aku menggeliat, mendesah pelan. Sensasi itu langsung menyebar ke seluruh tubuh.
“Seharian nunggu momen ini,” bisiknya di telingaku, suaranya serak.
Tak ada orang lain. Tak ada suara langkah di koridor. Hanya desah kami yang semakin tak terkendali.
Aku membalikkan badan, menciumnya dalam-dalam. Bibir kami saling melumat, tangan saling menjelajah.
“Ke rooftop yuk,” ajaknya sambil tersenyum nakal.
Kami cuma sempakan doang. Udara malam Juni yang sejuk menyapa kulit saat kami naik ke atas.
Rooftop kos yang biasanya sepi itu malam ini terasa sakral. Firly membawa gitarnya. Dia duduk bersila, aku di depannya, bersandar di dadanya.
Jari-jarinya memetik senar, memainkan Seandainya dan Tentang Kita. Suaranya rendah, syahdu. Sesekali dia mencium puncak kepalaku.
Bintang-bintang mulai bermunculan. Angin lembut meniup rambut kami. Di bawah sana, kota terasa jauh. Hanya ada kami, gitar, dan detak jantung yang semakin cepat.
Jelang malam semakin larut, kami turun kembali ke kamar. Pintu dikunci. Sempak langsung dilepas.
Kami berbaring telanjang di kasur sempit itu. Firly menarikku ke posisi 69. Kontolnya yang sudah tegang berada tepat di depan wajahku.
Aku membuka mulut, menelan pelan hingga ke pangkal. Dia pun melakukan hal yang sama—mulutnya yang hangat dan basah menyepong kontolku dengan rakus.
Kami saling memberi kenikmatan tanpa buru-buru. Suara isapan dan desahan memenuhi kamar kecil itu.
Tangan kami meremas paha, pinggul, dan bokong masing-masing. Rasanya begitu intim, begitu penuh kasih.
Tak perlu lebih dari ini. Kami tidak melakukan anal, karena kami tahu risikonya. Apa yang kami lakukan sudah lebih dari cukup—nikmat, hangat, dan penuh perasaan.
Setelah mencapai klimaks hampir bersamaan, kami saling membersihkan dengan lidah. Lalu Firly menarikku ke pelukannya.
Kami cuddle sepanjang malam. Keringat kami bercampur, napas kami saling berdampingan. Sesekali dia mencium keningku, aku membalas dengan kecupan di dadanya.
“Besok kita mudik paling akhir,” gumamku.
“Iya. Sengaja. Biar bisa nikmatin kos sepi ini,” jawabnya sambil mengusap punggungku pelan.
Malam itu kami tidur dalam pelukan, puas dan damai. Besok kami akan kembali ke keluarga masing-masing, berpura-pura seperti biasa. Tapi malam ini, di kos yang sepi, kami benar-benar milik satu sama lain.


Posting Komentar untuk "Ketika Kos Sepi dan Hanya Kami Berdua"