Ng⁴c³ng di Depan Anak Senior
Aku mampir ke rumah senior kantor sore itu karena ada berkas yang harus dibahas.
Rumahnya sepi, atapnya tinggi, jendela terbuka, dan begitu duduk di sofa ruang tamu, mataku langsung terkunci ke layar TV.
Di sana, ada mas-mas ganteng banget tiduran santai. Shirtless total. Badannya kencang, perut sixpack terpahat jelas, dada bidang berbulu tipis, lengan kekar.
Dia pakai sarung tipis doang, melorot sedikit sampai pinggang celana dalam hitamnya keliatan. Bulu kemaluan hitam pekat nongol sedikit di pinggir.
"Albi ini ada tamu, salamin dong!" seru senior-ku
Albi, anaknya yang katanya lagi mudik dari luar kota, langsung bangun.
Dia berdiri tinggi, badan atletis itu mendekat. Tangan besarnya menyalami aku dan teman-teman satu per satu.
Aroma sabun mandi dan keringat cowok masih segar tercium.
Sarungnya agak longgar, kontolnya yang keliatan menggantung berat di balik kain tipis itu bergoyang pelan tiap langkah.
Sempak hitamnya ketat, garis kontol tebal samar-samar kelihatan.
"Eh, pakai baju dulu lah, nggak sopan kamu," tegur ibunya.
Kami semua ketawa. Albi cuma nyengir lebar, giginya putih rapi.
"Nggak papa lah, kan sama-sama cowok," jawabnya santai sambil garuk perut.
Tangan besarnya mengusap pelan sixpack-nya, bikin otot perutnya ikut naik-turun.
Aku pura-pura biasa aja, tapi kontolku dalam celana sudah ngaceng keras.
Kepala kontolku basah, mendesak kain celana dalam. Anjay, anak senior secakep ini? Badannya kayak model majalah dewasa.
Kami ngobrol santai. Albi duduk lagi di sebelahku, kakinya lebar, sarungnya semakin melorot.
Aku bisa lihat jelas tonjolan kontolnya yang setengah tegang. Tebal, panjang, ujungnya agak melengkung.
Setiap dia ketawa, dadanya naik-turun, puting coklatnya mengeras karena AC.
Aku bayangin banget rasanya kalau tanganku meremas dada itu, menjilat perutnya sampai ke bawah, mencium bau kontolnya yang pasti hangat dan berat.
"Lo kerja di mana, Bi?" tanyaku, suaraku agak serak.
"Jakarta, Bang. Capek banget tiap pulang, badan pengen istirahat total," jawabnya sambil menggeliat.
Sarungnya geser lagi, hampir kelihatan batang kontolnya yang sudah setengah ngaceng.
Aku menelan ludah. Kontolku sudah berdenyut-denyut sakit, pengen banget keluar.
Pak Bambang dan yang lain sibuk ngobrol proyek. Aku cuma bisa melirik diam-diam ke arah Albi.
Dia sadar aku ngeliatin. Senyumnya nakal, matanya menyipit.
Diam-diam dia geser pinggulnya lebih dekat, biar tonjolan kontolnya hampir nyenggol paha ku. Panas. Berat.
Aku bisa bayangin kalau kami berdua di kamar, sarungnya dibuka, kontol tebalnya kutelan dalam-dalam sampai tenggorokan. Aku pengen dia ngentot mulutku kasar sambil remas kepalaku.
Malam semakin larut. Albi bangun mau ambil minum, kontolnya sudah jelas ngaceng di balik sarung.
Kain tipis itu nggak bisa nutupin apa-apa lagi. Dia sengaja lewat depanku pelan, kontolnya hampir nyenggol muka ku.
"Kalau mau mandi, kamar mandi belakang kosong, Bang," bisiknya pelan, suaranya serak nafsu.
Aku tersenyum, kontolku sudah banjir precum. Malam ini hiburan gratis berubah jadi godaan neraka.
Anak senior yang badannya sempurna ini, sepertinya juga suka main api. Dan aku siap bakar diri.


Posting Komentar untuk "Ng⁴c³ng di Depan Anak Senior"