Kenapa punyamu layu saat kulolipopin?
Setelah mandi bersama dan membersihkan sisa-sisa percintaan kami, aku dan Ian duduk di balkon apartemen lantai 8.
Angin sore masih hangat, membawa bau asap knalpot dan suara klakson yang tak pernah reda.
Lampu-lampu jalanan mulai nyala di bawah sana seperti lautan bintang yang jatuh. Aku shirtless dan celana pendek, Ian hanya mengenakan boxer hitamnya.
Tapi Ian diam. Matanya menatap jauh ke kegelapan, alisnya sedikit berkerut. Biasanya setelah bercinta dia akan memelukku dari belakang sambil bercanda. Sore ini berbeda.
"Kenapa kamu?" tanyaku pelan, tanganku menyentuh lengannya.
Dia menoleh, ragu sesaat. Lalu menghela napas.
"Aku boleh tanya gak? Tapi jawab jujur, ya."
"Apa?"
"Kenapa tiap gue entot, lu gak ngaceng? Lu desah-desah enak banget, tapi kontol lu malah layu total. Lu beneran enak apa cuma pura-pura biar gue seneng?"
Pertanyaan itu seperti tamparan halus. Aku terkejut, hampir tertawa karena absurdnya.
"Hah?"
"Jujur aja," Ian menatapku lekat. "Lu gak nafsu sama gue? Gue kurang bergairah? Tiap gue dorong masuk, kontol lu cuma berayun-ayun gak ada darahnya. Gue takut gue jelek buat lu."
Aku menggenggam tangannya. "Eh, bentar dulu. Emang harus ngaceng?"
Ian mengerutkan kening.
"Sebenernya aku juga gak tau kenapa kontolku malah layu pas dientot," kataku jujur. "Tapi bukan berarti aku gak menikmati. Justru sebaliknya. Kadang rasanya terlalu enak sampe aku gemeteran. Aku pernah sampe pipis-pipis kecil kayak cewek pas lo entot. Badanku panas, perutku bergetar, dan otakku kosong. Itu bukan pura-pura, Ian."
Aku tersenyum kecil. "Aku boti, Sayang. Boti gak harus ngaceng buat ngerasain nikmatnya. Bedanya sama top. Masing-masing orang emang beda-beda. Buat gue, pas lo ngebor gue, yang paling enak itu perasaan penuhnya, gesekan di dalam, dan sensasi pas lo nabrak titik itu berulang-ulang. Kontol gue gak perlu ikut tegang. Kadang malah lebih sensitif pas layu."
Ian diam mendengarkan. Wajahnya perlahan melunak.
Tiba-tiba ingatanku melayang ke satu jam lalu.
---
Di kamar yang temaram, Ian menindihku. Keringatnya menetes ke dada ku. Dia mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi, lalu mendorong kontolnya yang tebal dan panas masuk perlahan hingga pangkal. Aku mendesah panjang, suaraku pecah.
"Ahh… Ian…"
Kontolku tergeletak lemas di perutku, berayun-ayun mengikuti irama hantaman Ian yang semakin cepat. Setiap kali dia menghunjam dalam, kontolku bergoyang lucu, ujungnya mengeluarkan sedikit cairan bening. Bukan sperma, tapi tanda tubuhku sudah kelewat nikmat. Ian memandangnya sesaat, tapi terus menggoyang pinggulnya kuat-kuat.
"Desah lu bikin gue gila," bisiknya sambil mencium leherku.
Aku cuma bisa mengerang, tanganku mencengkeram seprai. Rasanya seperti gelombang listrik yang terus naik tanpa henti.
Hingga akhirnya aku mengejang, kontolku tetap layu, tapi lubangku berdenyut-denyut hebat menggenggam Ian.
Aku menyembur sedikit air seni tanpa bisa kutahan, basah di perutku sendiri.
Ian mendengus keras dan akhirnya meledak di dalamku.
---
Kembali ke balkon, Ian menarikku ke pangkuannya. Dia mencium keningku.
"Maaf. Gue cuma takut lu gak puas."
"Aku puas banget, Ian. Tiap kali sama lo. Gak perlu kontol gue tegang buat buktiin itu."
Dia tersenyum, pelukannya semakin erat. Di bawah sana, kota terus ramai. Tapi di lantai delapan ini, hanya ada kami berdua—dengan segala keunikan dan keintiman yang tak perlu dijelaskan lagi.


Posting Komentar untuk "Kenapa punyamu layu saat kulolipopin?"