Suamiku Gen Z
Usiaku baru masuk 22 tahun, sementara suamiku bahkan belum genap 21.
Secara hukum, kami sah. KTP sudah dicap, akad sudah dibaca, foto pernikahan sudah terpajang di ruang tamu.
Tapi secara mental? Kami masih seperti anak-anak yang dipaksa main rumah-rumahan sungguhan.
Orang tua kami adalah rekan bisnis lama. Pernikahan ini lebih mirip merger perusahaan daripada ikatan hati.
Mereka bilang, “Biarkan mereka tinggal berdua, belajar mandiri.”
Padahal kami masih kuliah di kampus yang berbeda. Aku di Fakultas Ekonomi salah satu PTN, dia di Teknik IT di kampus swasta.
Rumah baru di kawasan BSD ini diberikan lengkap dengan mobil dan kartu kredit tanpa batas.
Ekonomi? Tidak perlu dipikirkan. Hati? Itu yang bermasalah.
Sebulan setelah menikah, baru malam ini kami tinggal serumah. Sebelumnya kami masih tinggal di rumah masing-masing.
Artinya, malam ini adalah malam pertama kami benar-benar sendirian. Belum ada yang namanya malam pertama layaknya suami istri.
Dia keluar dari kamar mandi dengan singlet putih dan celana pendek.
Rambutnya masih basah, wajahnya bersih, kulitnya mulus.
Kalau dilihat dari segi fisik, dia sebenarnya cakep. Cute. Tapi entah kenapa, rasanya seperti melihat adik sendiri yang kebesaran baju.
Dia duduk di tepi ranjang, menggaruk tengkuknya.
“Mau ngentot gak?” tanyanya tiba-tiba.
Aku langsung melotot. “Eh, lu kurang ajar banget sih!”
“Kok kurang ajar? Kan kita udah nikah,” jawabnya polos. “Lagian sebulan lebih kita udah jadi suami istri.”
“Iya sih… tapi pake bahasa lain lah.”
Dia diam sebentar, lalu tersenyum kecil. “Ya udah. Mau wikwik gak?”
Aku malah tertawa. Tegang yang sudah memenuhi dada sejak sore langsung sedikit mencair.
“Emang lu bisa?” godaku.
“Hah? Ya bisalah. Meski belum pernah, tapi kan bisa dicoba. Dari bokep lah, buat referensi.”
“Ih jorok banget,” sahutku sambil melempar bantal ke arahnya.
“Kok jorok? Referensi, Sayang. Kalau gak dicoba, gimana bisa tau?” Dia mendekat.
Aku terdiam. “Tapi aku belum mau hamil. Masih kuliah.”
“Tenang, aku pake kondom,” katanya lagi, suaranya mulai pelan.
Kami saling pandang. Wajahnya mendekat, begitu dekat sampai aku bisa mencium aroma sabun mandinya.
Tiba-tiba dadaku berdegup kencang. Bukan karena berahi, tapi karena takut. Aku mendorong dadanya pelan.
“Nakutin banget sih…”
Dia terhenti. Menghela napas panjang, lalu berjalan ke jendela. Duduk di sana, menatap lampu-lampu taman. Aku duduk di ranjang, memeluk lutut sendiri.
Kami berdua diam lama. Hanya ada suara AC yang mendengung pelan.
“Kayaknya kita masih terlalu muda ya,” gumamnya akhirnya.
“Iya,” jawabku pelan. “Aku masih suka takut gelap. Kamu masih suka main game sampe pagi.”
Dia tertawa kecil. “Dan kita dipaksa jadi suami istri.”
Aku mengangguk. “Mungkin suatu saat nanti kita bisa… tapi gak harus malam ini.”
Dia menoleh, tersenyum tipis. “Iya. Gak usah buru-buru. Kita masih punya banyak waktu.”
Malam itu kami akhirnya tidur berjauhan di ranjang king-size yang terasa terlalu besar. Punggung kami saling membelakangi, tapi entah kenapa, ada sedikit kelegaan.
Kami memang sudah menikah. Tapi mungkin, kami masih butuh waktu untuk saling jatuh cinta.


Posting Komentar untuk "Suamiku Gen Z"