Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Kendalikan "Ngac³ng" dari Atlet Binaraga

Aldo berdiri di depan cermin kecil di kamar hotel, tubuhnya sudah seperti patung marmer yang diukir terlalu dalam. 

Tujuh belas minggu contest prep: 4% body fat, 8 liter air sehari jadi 400 ml, karbohidrat nol, diuretic sejak Senin. 

Penisnya menggantung lemas di balik posing trunk hitam, seperti benda asing yang lupa cara hidup.

Malam sebelum panggung, Aldo mencoba mengingat wajah pacarnya. Tak ada respons. 

Testosteron memang tinggi di awal siklus steroid, tapi sekarang? Leptin—hormon kenyang yang juga menjaga libido—sudah jatuh ke dasar. 

Tubuhnya mengira sedang kelaparan besar. Otak mematikan semua sinyal reproduksi agar energi tersisa untuk bertahan hidup. 

“Ini bukan tentang seks,” gumamnya. “Ini tentang bertahan.”

Backstage, lampu neon menyilaukan. Kulitnya dioles baby oil campur tanning, dingin dan lengket. 

Shaving total membuat kulit sensitif, tapi tak ada getaran. Darahnya terlalu sedikit. 

Dehidrasi ekstrem: plasma darah turun hingga 20-25%, volume total darah menyusut. 

Jantung memompa keras hanya untuk menjaga otot tetap “pumped” saat flex. 

Penis butuh aliran darah ekstra, relaksasi arteri, nitric oxide yang membanjir—semua itu mustahil ketika tubuh sedang fight-or-flight total.

Adrenalin membanjiri. Kortisol tinggi. Sistem saraf simpatik mendominasi. Ereksi hanya terjadi saat parasimpatik aktif—rest and digest, rileks, nafsu. 

Di sini? Tidak ada ruang untuk rileks. Cahaya sorot 40 derajat Celcius, penonton berteriak, juri mengawasi setiap serat otot. 

Otak Aldo hanya satu perintah: kontraksikan, tahan, jangan goyah.

Di panggung, musik menggelegar. Aldo melangkah keluar. Lampu putih membakar retina. 

Ia flex most muscular, vacuum, side chest. Darah mengalir deras ke deltoid, trapezius, quad—tapi bukan ke corpora cavernosa. 

Penis tetap lunak, tersembunyi rapat di balik kain tipis. Tidak ada bulge yang memalukan. 

Tidak ada pikiran mesum. Hanya rasa haus yang membakar tenggorokan dan denyut jantung yang seperti drum perang.

Saat turun panggung, Aldo langsung minum 2 liter air dalam sekali teguk. Perlahan darah kembali, hormon mulai pulih. Ia tersenyum tipis. 

“Orang bertanya kenapa kami tak pernah ngaceng di stage. Jawabannya sederhana: kami bukan manusia lagi di sana. Kami mesin yang diatur untuk satu tujuan—menampilkan otot. Dan mesin tak butuh nafsu.”

Empat ratus kata. Itu cerita Aldo malam itu. Besok pagi, setelah refeed, mungkin ereksi pagi kembali. Tapi di panggung? Tak pernah. Karena di sana, tubuhnya sudah memilih: bertahan hidup, bukan bercinta.

Posting Komentar untuk "Cara Kendalikan "Ngac³ng" dari Atlet Binaraga"