Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dia Sekarang Tampan Sekali


Ketuk-ketuk pelan di pintu kosanku yang sudah larut. Jam dinding menunjuk hampir tengah malam.

Aku membuka pintu sambil menguap.

Dia berdiri di sana, kaos hitam ketat membungkus dada lebar, senyum tipis mengembang di wajah yang asing tapi… entah kenapa familiar.

“Jaka.”

Aku mengerjap. “Iya… cari siapa?”

“Kamu lupa ya?” suaranya dalam, sedikit serak, seperti orang yang baru habis tertawa panjang.

Aku memicing. Wajah itu tampan sekali. Rahang tegas, alis tebal, bibir penuh. Badannya… ya Tuhan. Bahu lebar, lengan berotot terlihat jelas di balik lengan kaos yang digulung sampai siku. Aku hampir tidak percaya mata.

“Coba deh kamu perhatiin lagi wajahku,” pintanya sambil mencondongkan badan sedikit. Bau parfum kayu dan citrus langsung menyelinap ke hidungku.

Aku mundur setengah langkah. Jantungku mulai berdegup tak karuan. “Maaf… aku beneran nggak kenal.”

Dia tertawa kecil. Suara itu. Tiba-tiba aku seperti ditarik mundur ke halaman rumah masa kecil.

“Gilang, Jak. Gilang yang rumahnya seberang. Yang tiap sore kita main layangan di lapangan belakang masjid.”

Mulutku ternganga. “Gil… Gilang? Serius?”

Dia mengangguk, masih tersenyum. 

“Sepuluh tahun, bro. Aku pindah pas kelas lima. Sekarang balik ke kota ini buat skripsi. Langsung kepikiran nyari kamu.”

Aku masih shock. Gilang yang dulu kurus kering, giginya ompong satu, sekarang… ini manusia apa dewa Yunani yang nyasar?

Kami akhirnya naik ke balkon kamar. Angin malam dingin, tapi badanku panas. 

Aku cuma pakai celana pendek dan kaos oblong tanpa daleman. Dan sialnya, sejak dia masuk kamar, aku sudah merasakan sesuatu mengeras di selangkanganku. Terus-terusan. Tak mau kalah.

“Kamu… berubah banget,” kataku, suara agak parau.

“Operasi apa, ya?” candanya sambil mengangkat kaosnya sedikit, memperlihatkan perut kotak-kotak yang terukir sempurna. “Gym doang, Jak. Tiap hari. Kamu juga nggak jelek-jelek amat sekarang.”

Aku tertawa gugup. “Ah, biasa aja.”

Dia menatapku lama. Mata kami bertemu. Ada sesuatu di tatapannya yang membuat napasku tersendat.

“Dulu kita janji, kalau besar nanti ketemu lagi, kita bakal cerita semua hal yang nggak bisa diceritain ke orang lain,” ucapnya pelan.

Aku menelan ludah. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku pengen tahu… apa kamu masih ingat rasanya tidur bareng di teras pas hujan deras? Kamu yang takut petir, aku yang peluk kamu dari belakang.”

Wajahku panas. Ingatan itu tiba-tiba hidup kembali. Tubuh kecil kami yang dulu saling menempel, hangat, polos. Tapi sekarang… sekarang semuanya berbeda.

“Gil…” suaraku hampir hilang.

Dia mendekat. Jarak kami tinggal satu telapak tangan. Aku bisa merasakan panas tubuhnya.

“Aku nggak bohong tadi,” bisiknya. “Aku langsung kepikiran kamu begitu masuk kota ini. Dan sekarang lihat kamu… masih sama. Masih bikin aku pengen… deket terus.”

Tangannya menyentuh lengan dalamku. Ringan. Tapi seperti listrik.

Aku menatap ke bawah. Celanaku sudah membentuk tenda yang sangat jelas. Tak ada lagi tempat bersembunyi.

Gilang tersenyum, mata turun ke sana lalu naik lagi ke wajahku. 

“Kayaknya… kamu juga nggak bohong.”

Aku tak sanggup bicara. Hanya mengangguk kecil.

Dia menarikku pelan ke dalam kamar. Pintu balkon ditutup. Lampu meja diredupkan.

“Gil… ini beneran?” tanyaku, suara gemetar.

Dia mendekatkan wajahnya sampai hidung kami hampir bersentuhan. 

“Sepuluh tahun aku nunggu momen ini, Jak. Kamu?”

Aku tak jawab dengan kata-kata.

Aku hanya menarik lehernya dan menciumnya.

Ciuman pertama kami terasa seperti hujan deras yang akhirnya turun setelah lama sekali kemarau. Basah, lapar, penuh rindu yang tak pernah kami akui dulu.

Tangannya merayap ke pinggangku, menyelip ke dalam celana pendek. Saat jemarinya menyentuh kulit sensitif di sana, aku mengerang pelan di mulutnya.

“Kamu… keras banget dari tadi,” bisiknya sambil tersenyum di sela ciuman.

“Salah kamu,” balasku, napas tersengal. “Masuk kamar orang malem-malem, badan segini… mana tahan.”

Gilang tertawa kecil, lalu mendorongku ke kasur. Tubuhnya menutupi tubuhku. Berat. Hangat. Menggairahkan.

“Sepuluh tahun, Jak,” gumamnya di leherku sambil mencium kulit di sana. “Kita balas dendam semua waktu yang hilang, ya?”

Aku hanya bisa mengangguk, tanganku meremas punggungnya yang keras, merasakan setiap lekuk ototnya.

Malam itu, di kamar kos sempit yang berbau kopi dan sabun colek, kami tak lagi teman SD.

Kami adalah dua lelaki yang akhirnya menemukan satu sama lain—lagi.

Dan kali ini, tak ada yang akan memisahkan.

Posting Komentar untuk "Dia Sekarang Tampan Sekali"