Malam Pertamaku
Malam pertama setelah ijab kabul dan resepsi, badan kami seperti habis digilas truk.
Gaun pengantin istri masih setengah menempel, riasan luntur, rambut acak-acakan.
Aku memeluknya dari belakang di ranjang.
“Orang-orang pada langsung ngewe ya pas malam pertama?” tanyaku sambil mencium lehernya, suara sengaja dibuat serak menggoda.
Dia terkikik pelan, badannya lunglai.
“Kamu kira aku masih kuat berdiri? Kaki pegel, pinggul pegel, kepala pening. Tidur dulu lah, Mas…”
Kami rebahan begitu saja, saling peluk tanpa melepas baju. Dalam lima menit sudah mendengkur.
Malam kedua beda.
Lampu kamar kuning redup. Aku keluar kamar mandi hanya pakai handuk pinggang.
Dia sudah berganti negligee sutra putih tipis—hadiah ibunya. Begitu payudaranya yang bulat penuh bergelayut lembut di balik kain transparan itu terlihat, penis ku langsung ngaceng keras, menegang sampai handuk terangkat.
“Ya Tuhan… sekarang sudah halal,” gumamku, hampir tak percaya.
Dia menatap tonjolan itu, tersenyum malu-malu.
“Udah keras dari tadi ya?”
Aku mendekat, menariknya ke pelukan. Ciuman kami panas, lidah saling bertaut, napas memburu.
Tanganku meremas payudaranya, ibu jari menggosok puting yang sudah mengeras seperti kacang. Dia mendesah di mulutku.
Aku turunkan tali negligee. Payudaranya terbebas, puting cokelat muda menonjol menggoda.
Aku hisap satu, lidah memutar-mutar, tangan satunya meremas lembut.
Dia melengkung, tangannya mencengkeram rambutku.
“Mas… ahh… enak…”
Aku terus turun, mencium perut rata, lalu sampai ke celana dalam tipis yang sudah basah di tengah.
Aku tarik kain itu. Bulu kemaluannya rapi, vaginanya mengkilap cairan bening. Bibir luarnya merah muda, masih rapat.
Aku membukanya pelan dengan jari, cium klitoris kecil itu, lalu jilat datar. Dia menggelinjang.
“Mas… geli… tapi enak…”
Satu jari masuk perlahan. Dia sempit, hangat, dinding dalamnya berdenyut. Aku gerakkan pelan sambil terus menjilat klitoris. Cairannya membanjiri jariku.
“Aku mau masukin yang beneran…” katanya tiba-tiba, suara gemetar.
Aku posisikan diri di atasnya. Penis ku sudah basah di ujung. Aku gesek-gesek dulu di klitorisnya sampai dia mendesah lagi.
“Pelan ya, Mas…”
Aku dorong pelan. Kepala masuk, dia menahan napas. Ada hambatan kecil, tapi dia mengangguk. Aku dorong lagi, setengah masuk. Dia meringis, tapi peluk punggungku erat.
Akhirnya masuk penuh. Rasanya… surgawi. Hangat, dijepit lembut, licin, dinding dalamnya berdenyut pelan.
“Enak?” bisikku.
Dia mengangguk kecil, masih agak meringis. “Agak nyeri… tapi… enak juga. Gerak pelan dulu.”
Aku goyang perlahan. Lama-lama desahannya berubah jadi “ahh… ahh…” yang manja.
Cairannya makin banyak, suara basah “plek… plek…” terdengar intim.
“Aku genjot ya?”
Dia mengangguk, mata berkaca-kaca penuh hasrat.
Aku percepat, dorong lebih dalam. Dia menjerit kecil saat aku masuk sampai pangkal. Vaginanya menjepit kuat.
“Mas… aku… mau keluar…”
Aku genjot pendek-pendek tapi dalam. Dia menegang, vaginanya berdenyut keras, orgasme. Tubuhnya menggigil, cakar punggungku.
Aku tak tahan lagi. “Mau keluar…”
“Di dalam aja…” pintanya cepat.
Aku dorong beberapa kali lagi, lalu meledak. Sperma menyemprot hangat di dalamnya, banyak, dalam-dalam. Aku mengerang panjang.
Kami diam, masih tersambung. Penis ku perlahan melemas, cairan kami meleleh keluar pelan.
Dia tersenyum lemah, memelukku erat.
“Jadi gini ya rasanya ngewe cewek… enak banget, nyaman, hangat…”
Aku cium keningnya. “Besok malam kita ulang lagi. Mungkin lebih lama.”
Dia tertawa kecil. “Kalau belum hamil, ya kita usahakan terus.”
Malam itu kami tidur lengket, bahagia, dan sudah tak sabar menanti malam berikutnya.

Posting Komentar untuk "Malam Pertamaku"