Elus Kepalaku
Dua minggu kemudian hujan deras mengguyur sejak sore. Kontrakanku basah di teras, air merembes lewat celah jendela kamar.
Aku lagi scroll TikTok sambil nunggu mie instan matang, tiba-tiba notif masuk dari Gaza.
“Kak, lagi di mana? Hujan deras banget, aku di depan gang.”
Aku langsung lompat dari kasur, buka pintu. Dia berdiri di bawah payung hitam yang sudah bocor, seragam SMA-nya basah kuyup di bahu dan dada, rambut menempel di dahi.
Matanya merah, entah karena air hujan atau nangis diam-diam.
“Masuk cepet, lo gila apa basah gini?” Aku tarik tangannya masuk, tutup pintu rapat biar temen-temen nggak pada nanya.
Dia lepas sepatu, kaus kaki basah meninggalkan jejak di lantai. Aku ambil handuk kecil dari lemari, lap rambutnya pelan. Dia diam aja, mata tertunduk, tapi badannya mendekat.
“Kak… boleh elus kepala aku?”
Aku tersenyum kecil.
“Boleh. Duduk sini.”
Kami duduk di pinggir kasur. Aku selonjoran, punggung bersandar dinding.
Gaza langsung selonjor di pangkuanku, kepalanya rebah di pahaku, menghadap ke atas.
Rambutnya masih lembab, baunya campur hujan dan sabun mandi pagi tadi. Aku mulai elus-elus pelan dari dahi ke ubun-ubun, jari-jariku menyisir rambut yang basah itu.
Dia menutup mata. Napasnya pelan-pelan jadi teratur.
“Rasanya… kayak disayang,” bisiknya pelan.
“Orang rumah jarang gini. Ayah cuma marah kalau nilai jelek, ibu sibuk kerja. Aku cuma pengen disentuh gini aja, Kak. Bukan yang aneh-aneh. Cuma… ini.”
Aku nggak jawab langsung. Jari-jariku terus bergerak, kadang turun ke pelipis, kadang ke belakang telinga.
Kulit kepalanya hangat meski rambut basah. Dadanya naik turun pelan, kaos basahnya menempel ketat, memperlihatkan garis tulang rusuk yang tipis.
“Lo nggak takut orang rumah nyari?” tanyaku setelah beberapa menit diam.
Dia menggeleng pelan.
“Malam ini mereka ke rumah saudara. Pulang besok pagi. Tapi… aku nggak bisa nginep di sini. Nanti kalau ketahuan, mati aku.”
Aku diam. Hujan di luar makin deras, petir sesekali menyambar. Kamar terasa lebih kecil, lebih hangat.
“Jadi… cuma sebentar aja ya?” tanyanya, suaranya hampir hilang.
“Iya. Sebentar aja.”
Aku terus elus kepalanya. Kadang jempolku menyentuh alisnya, kadang telunjukku mengelus cuping telinganya yang kecil.
Dia mendesah pelan setiap kali jari-jariku menyentuh titik sensitif di belakang telinga.
Badannya rileks total, tapi aku bisa ngerasain ereksinya pelan-pelan mengeras lagi di celana seragam yang basah itu, menekan pahaku.
Aku juga begitu—keras, panas, tapi kami sama-sama nggak gerak lebih jauh.
Cukup elusan. Cukup kehangatan jari di kulit kepala.
Setelah hampir satu jam, hujan mulai reda. Gaza bangun pelan, matanya sayu tapi tenang.
“Makasih, Kak. Aku pulang dulu ya, sebelum jam 10.”
Aku antar dia sampai pintu gang. Dia pakai jaketku yang kebesaran, payung hitamnya masih menetes.
Sebelum pergi, dia balik badan, peluk aku erat sekali. Dadanya menempel di dadaku, napasnya di leherku.
“Besok-besok boleh lagi?” bisiknya.
“Boleh. Kapan aja lo butuh.”
Dia tersenyum kecil, lalu berlari kecil menghilang di kegelapan gang yang masih basah.
Aku balik ke kamar, kasur masih hangat bekas tubuhnya. Bau rambut basah dan sabunnya masih menempel di bantal.
Aku rebahan, tatap plafon, tangan masih ingat sensasi elusan di kepala anak itu.
Aku nggak tahu ini apa. Sayang? Nafsu? Kasihan? Atau cuma dua orang yang sama-sama haus akan sentuhan sederhana di kota yang dingin ini.
Yang pasti, besok kalau dia chat lagi, aku bakal buka pintu. Dan elus kepalanya lagi. Sampai dia merasa disayangi. Sampai aku juga merasa… nggak sendirian.

Posting Komentar untuk "Elus Kepalaku"