Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dia Sangat Tampan



Kopi pagi itu terasa lebih panas dari biasanya. 

Aku duduk di pojok kafe favorit, mata tak bisa lepas dari barista baru yang semua orang bisik-bisik sebut namanya Rama. 

Tinggi, kulit sawo matang, rambut rapi teratur, dan senyumnya—sialan, senyum itu seperti senjata ilegal. 

Kemeja hitam membungkus dada bidang dan lengan yang jelas sering angkat beban. 

Celemek coklat tua tergantung santai di lehernya, tali simpulnya jatuh tepat di atas selangkangan, membuat imajinasiku langsung liar.

Setiap kali dia menyodorkan cangkir ke customer, otot lengan bawahnya menonjol, urat-urat kecil muncul saat dia memutar gelas latte art. 

Suaranya dalam, sedikit serak, penuh percaya diri saat bilang, 

“Ini caramel machiatomu, kak. Semoga bikin harimu lebih manis.” 

Aku pura-pura sibuk scroll HP, padahal jantungku sudah berdegup kencang seperti drum di dada.

Jam delapan malam, kafe tutup. Aku sengaja datang terakhir, memesan americano meski sudah larut. 

Rama menutup pintu depan, mematikan lampu neon, tinggal lampu kuning hangat di belakang counter. 

Dia menoleh padaku, senyum kecil muncul di sudut bibir.

“Masih mau stay sebentar?” tanyanya sambil melepas celemek perlahan.

Aku mengangguk, suara tercekat. 

“Mau liat kamu beres-beres.”

Dia tertawa pelan, mendekat. Bau kopi dan parfum kayu rempahnya langsung menyerbu hidungku. 

Tanpa banyak bicara lagi, tangannya meraih pinggangku, menarikku ke arah pintu belakang yang menuju tangga kecil ke apartemen mungil di lantai atas.

Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung mendorongnya ke dinding. 

Jari-jariku gemetar saat menarik kaos hitam itu ke atas. Dadanya bidang, perutnya rata dengan garis-garis otot samar, puting cokelat kecil mengeras begitu udara menyentuh. 

Aku mencium lehernya, lidahku menelusuri urat nadi yang berdenyut kencang. 

Dia mendesah pelan, tangan besarnya meremas bokongku keras sampai aku mengerang.

Celana jeansnya aku buka kasar. Boxer hitam ketat yang dia pakai langsung membentuk tonjolan tebal yang sudah keras. 

Aku berlutut, menarik kain itu turun perlahan. Kontolnya loncat keluar—panjang, tebal, urat-urat menonjol, kepalanya merah mengkilap karena precum. 

Aku menjilat dari pangkal sampai ujung, rasanya asin dan panas di lidah. 

Rama menggenggam rambutku, mendorong pelan masuk lebih dalam sampai aku tersedak ringan.

“Fuck… enak banget mulutmu,” desisnya.

Dia mengangkatku seperti tak berbobot, melemparku ke ranjang. 

Dalam sekejap boxerku sudah robek, celana dalamku dilempar entah ke mana. 

Rama menindihku, lututnya membuka kakiku lebar-lebar. Kontolnya menggesek-gesek bibir vaginaku yang sudah basah kuyup, menggoda tanpa ampun.

“Masukin… please, Rama…” pintaku memohon.

Dia tersenyum jahat, lalu mendorong masuk sekaligus. Aku menjerit pelan—penuh, terbelah, nikmat luar biasa. 

Dia mengentotku keras, ritmenya cepat dan dalam, bola-bolanya menampar klitorisku setiap dorongan. 

Payudaraku bergoyang-goyang, putingku dijepit jemarinya sampai perih nikmat.

Kami berganti posisi berkali-kali—doggy sampai aku merangkak sambil menjerit namanya, cowgirl sampai pahaku gemetar karena naik-turun batang tebal itu, missionary lagi sampai matanya menatapku dalam-dalam sambil berbisik kotor, “Pussy kamu enak banget… mau keluar di dalem, boleh?”

Aku mengangguk cepat, kuku mencakar punggungnya. Dia mengerang keras, dorongan terakhir dalam-dalam, lalu panas cair memenuhi rahimku berkali-kali. Kami ambruk bersama, napas tersengal.

Malam itu kami tak tidur. Tubuh saling menempel, keringat bercampur, jari-jarinya masih bermain di antara lipatanku yang licin. Dia mencium keningku, pelukannya hangat dan posesif. 

Kami cuddle sampai matahari pagi menyelinap lewat celah gorden—telanjang, lengket, puas, dan tahu besok pagi aku pasti akan kembali ke kafe itu, memesan kopi yang sama, dan berharap Rama lagi yang melayani.

Posting Komentar untuk "Dia Sangat Tampan"