Boti untuk Suamiku
Sebelum menikah, Suamiku pernah berterus terang di balkon apartemenku.
Malam itu anginnya sejuk, lampu kota berkelap-kelip di bawah.
“Aku suka boti,” katanya pelan, seolah takut aku kabur. “Cowok yang jadi ceweknya.”
Aku tertawa ringan, menepuk lengannya.
“Boti bisa punya anak nggak?”
Dia tersenyum malu, tapi matanya tetap jujur. Aku lalu mendekat, berbisik di telinganya, “Tapi nafsu sama aku?”
Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Malam itu kami bercinta sampai ranjang basah.
Dia menyetubuhiku dengan rakus, jarinya lincah, lidahnya panas. Aku squirt untuk pertama kalinya, tubuhku gemetar hebat di bawahnya. Dia membuktikan: aku adalah rumahnya.
Dua tahun pernikahan berlalu damai. Dia suami yang baik—lembut, perhatian, dan di ranjang dia tetap dominan seperti laki-laki sejati.
Tapi suatu malam, setelah makan malam, dia memelukku dari belakang di dapur.
“Sayang… boleh nggak aku fun sama boti sekali-sekali?”
Aku membalikkan badan, menatap matanya.
“Nyari di mana?”
“Aplikasi. Just for fun. Aku cuma penasaran, tapi aku tetap mau pulang ke kamu.”
Aku diam sebentar. Anehnya, tak ada rasa cemburu yang menyakitkan. Mungkin karena aku tahu Dia mencintaiku.
Boti baginya hanya permainan sesaat. Aku mengangguk. “Pasti pakai pengaman ya. Dan setelah itu, kamu harus balik jadi suamiku. Bisa ngelanjutin di ranjang sama aku.”
“Pasti,” katanya sambil mencium keningku.
Malam itu Dia keluar. Aku menunggu di rumah sambil menonton drama Korea, anehnya tenang.
Jam dua dini hari, pintu terbuka. Dia masuk dengan rambut sedikit acak-acakan, bau sabun hotel masih menempel di tubuhnya.
Dia langsung memelukku erat.
“Aku pulang.”
Kami tidak banyak bicara. Raka menciumku dengan lapar, seolah ingin membuktikan sesuatu. Baju kami jatuh ke lantai. Dia mendorongku ke sofa, membuka kakiku lebar, dan memasukkan miliknya yang sudah keras sekali ke dalam memekku yang sudah basah menanti.
“Ahh… Sayang,” erangku.
Dia menggoyang pinggulnya kuat-kuat. Bedanya malam ini, dia lebih liar. Mungkin adrenalin dari pertemuannya tadi.
Aku merasakan setiap dorongan dalam-dalam, sampai aku squirt lagi, membasahi perutnya. Dia tidak berhenti. Beberapa menit kemudian, Dia mendesah panjang dan menyemburkan spermanya di dalamku.
Kami berpelukan di sofa, napas masih tersengal.
“Gimana?” tanyaku pelan, mengelus dadanya.
“Enak,” jawabnya jujur. “Tapi… nggak ada yang bisa ngasih perasaan kayak gini.”
Dia mengecup bibirku. “Kamu istriku. Aku cuma mau pulang ke sini.”
Aku tersenyum, merasa hangat. Suamiku memang aneh. Dia suka boti, suka merasakan tubuh laki-laki yang lembut dan manja. Tapi di akhir malam, dia selalu kembali ke pelukanku.
Dan di ranjang, dia tetap suamiku yang kuat, yang bisa membuatku squirt dan menjerit nama dia.
Mungkin ini bukan pernikahan biasa. Tapi ini milik kami.


Posting Komentar untuk "Boti untuk Suamiku"