Sejak Ortuku Bercerai
Aku tak pernah mau bilang kalau aku jadi suka cowok gara-gara ortu bercerai.
Sudah dari lama, jauh sebelum rumah tangga mereka hancur, kontol-kontol dewasa sudah bikin kontolku tegang diam-diam.
Tapi setelah perceraian, rumah jadi sepi banget. Malam-malam panjang, aku cuma scrolling aplikasi gay, cari yang bisa isi kekosongan.
Aku paling suka yang umur 30 ke atas. Om-om berbadan tebal, dada bidang, perut agak gendut tapi masih berisi. Vibes pelindung.
Mereka yang tahu cara pegang tubuh cowok muda kayak aku.
Malam itu aku chat sama om yang fotonya bikin kontolku langsung ngaceng. Dada berbulu, lengan kekar. “Mau ketemu sekarang?” tanyanya. Aku langsung setuju.
Kami ketemu di lobi hotel. Om ini umur 42, tinggi, suaranya berat. Begitu pintu kamar tertutup, dia langsung tarik pinggangku dan cium bibirku dalam-dalam.
Lidahnya kasar, tangannya meremas pantatku kuat-kuat.
“Kamu suka duduk di atas ya?” bisiknya sambil nyengir. Aku mengangguk malu.
Dia buka baju. Badannya persis yang aku suka—dada lebar, puting coklat gelap, perut agak buncit tapi kontolnya sudah berdiri tegak, tebal, urat-uratnya kelihatan.
Aku jongkok, langsung ngisep kontolnya rakus. Bau maskulin om-om bikin kepalaku pusing enak. Aku hisap sampai ludahku meleleh, mainin kepala kontolnya pake lidah.
“Enak banget mulutmu, sayang,” desahnya sambil pegang kepalaku.
Tak lama dia angkat tubuhku, baringkan di kasur. Dia lumuri lubang pantatku pake minyak, jarinya masuk pelan, keluar-masuk sambil mainin putingku.
Dua jempolnya muter-muter putingku yang sudah keras. Aku mendesah keras, badanku panas.
“Naik sini,” perintahnya.
Aku naik ke atas tubuhnya. Posisi favoritku. Kontolnya yang licin aku arahkan ke lubang pantatku yang sudah basah. Pelan aku duduk, rasain kepala kontolnya membuka lubangku lebar-lebar.
“Ahh… besar banget, Om…” erangku.
Inch demi inch kontol tebal itu masuk sampai pangkal. Rasanya penuh, nyeri enak. Aku mulai gerak naik-turun, memutar pinggul. Setiap kali turun, kontolnya ngena titik sensitif di dalemku.
Om-om ini tersenyum, tangannya naik ke dadaku, jari-jarinya memilin putingku lembut tapi pasti. Kadang dicubit pelan, kadang diusap pake ibu jari.
Dua titik sensitifku—puting dan lubang pantat—dimainin bareng. Kenikmatan fisiknya gila. Tapi yang lebih dalam adalah rasa itu… rasa disayangi.
Dia memeluk pinggangku, mencium leherku, bilang “Bagus banget kamu, nak… enak sekali lubangmu ngepit kontol Om.”
Aku semakin cepat naik-turun. Kontolku yang keras ngocor precum di perutnya. Setiap kali pantatku jatuh, bunyi basah “plok-plok” memenuhi kamar. Putingku dihisap bergantian, jarinya tetap memainkan yang satu lagi.
“Om… mau keluar…” erangku.
Dia pegang pinggulku kuat, dorong kontolnya dari bawah lebih dalam. Aku meledak duluan, spermaku muncrat ke dada om-om itu. Tak lama dia mendengus, kontolnya berdenyut di dalam lubangku, menyemburkan sperma panas sampai penuh.
Kami terbaring sambil pelukan. Dia usap punggungku pelan. Untuk sesaat, kesepian itu hilang. Aku merasa diinginkan, diisi, disayangi.
Sudah berapa om-om yang aku temui seperti ini. Kadang mereka tawarin uang jajan, aku selalu tolak. Aku bukan BO. Aku cuma butuh tubuh hangat, kontol tebal, dan tangan yang tahu cara mainin putingku sambil lubangku ditusuk dalam-dalam.
Dan malam ini, lagi-lagi, aku dapat semua itu.


Posting Komentar untuk "Sejak Ortuku Bercerai"