Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mie Instan, dan Tengah Malam



Jam menunjukkan pukul 00.13.

Sigma masih menatap layar laptopnya yang dipenuhi tab jurnal, file revisi, dan video kuliah yang bahkan belum selesai diputar. Kipas angin di kamar kosnya berdecit pelan. 

Di luar, suara knalpot motor terdengar sesekali, lalu hilang ditelan malam.

Perutnya berbunyi.

Awalnya kecil. Lalu makin keras.

“Bahaya ini,” gumam Sigma sambil memegang perut.

Sejak sore ia hanya minum kopi dan makan dua gorengan. Awalnya merasa kuat. Seperti biasa, anak kos sering punya keyakinan aneh bahwa kopi bisa menggantikan makan malam. Padahal tubuh punya cara sendiri untuk melakukan protes.

Dalam ilmu fisiologi, rasa lapar pada malam hari muncul karena tubuh kekurangan energi dan kadar gula darah mulai turun. 

Otak, terutama hipotalamus, akan mengirim sinyal agar seseorang mencari makanan. Karena itu, ketika begadang, rasa lapar sering terasa lebih brutal dibanding siang hari.

Sigma membuka rak kecil di dekat galon.

Ada telur. Ada sawi yang mulai layu. Dan tentu saja, benda paling sakral dalam peradaban anak kos, mie instan.

Ia tersenyum tipis.

Lima menit kemudian air mendidih. Aroma bumbu mulai memenuhi kamar sempit itu. Sigma memecahkan telur ke dalam panci, lalu memasukkan irisan sawi agar ada sesuatu yang terlihat sehat.

Secara ilmiah, tambahan telur memberi protein yang membantu rasa kenyang lebih lama. Sayur memberi serat dan membantu kerja pencernaan. Itu jauh lebih baik dibanding makan mie instan polos dengan nasi dua centong.

Namun mie instan tetap punya persoalan.

Kandungan natrium atau garamnya cukup tinggi. Dalam jangka panjang, konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Belum lagi kandungan lemak dan kalorinya yang padat, sementara vitamin alaminya rendah.

Masalah lain muncul ketika makan terlalu larut malam.

Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, semacam jam biologis. Saat tengah malam, metabolisme melambat. Sistem pencernaan tidak bekerja seefisien siang hari. Karena itu, makan berlebihan sebelum tidur bisa membuat lambung terasa penuh, kualitas tidur menurun, bahkan meningkatkan risiko refluks asam lambung.

Sigma sebenarnya tahu semua itu.

Ia pernah membaca jurnal kesehatan masyarakat sambil pura-pura rajin di perpustakaan kampus.

Tetapi teori sering kalah oleh suara perut.

Apalagi bagi anak kos.

Mie matang. Sigma menuangkannya ke mangkuk plastik bergambar ayam yang warnanya mulai pudar. Uap tipis naik perlahan. Di luar, hujan kecil mulai turun.

Suapan pertama terasa luar biasa.

Tubuh manusia memang unik. Ketika lapar berat, otak akan melepaskan dopamin lebih tinggi saat makan makanan gurih dan tinggi karbohidrat. Karena itu mie instan tengah malam sering terasa seperti makanan terbaik di dunia, meski besok paginya orang yang sama bisa menyesal.

Sigma makan perlahan kali ini.

Tidak buru-buru.

Ia teringat dosennya pernah berkata bahwa solusi terbaik ketika lapar tengah malam bukan selalu menahan diri total, melainkan memilih makanan yang lebih seimbang dan tidak berlebihan.

Jika memungkinkan, pilihan terbaik adalah makanan ringan dengan protein dan serat, misalnya telur rebus, pisang, oatmeal, susu, roti gandum, atau buah. Minum air putih juga penting, sebab kadang tubuh salah mengira haus sebagai lapar.

Namun hidup anak kos jarang ideal.

Kadang yang tersedia hanya mie instan, telur, dan keberanian menghadapi tanggal tua.

Setelah makan, Sigma mematikan laptop. Ia membuka jendela kamar sedikit lebih lebar. Udara dingin masuk perlahan.

Perutnya sudah tenang.

Besok pagi mungkin ia akan berjanji hidup lebih sehat.

Lalu beberapa minggu kemudian, jam 12 malam datang lagi.

Posting Komentar untuk "Mie Instan, dan Tengah Malam"