Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenapa sejak awal lu gak jujur kalau boti?



Kamar kos itu hanya diterangi lampu tidur kuning redup. Kami berdua sudah lepas semua pakaian setelah sesi cuddle yang panas dan lama. 

Tubuhnya yang berotot menempel di punggungku, napasnya hangat di tengkuk. 

Aku hanya memakai boxer hitam, sementara dia memakai jockstrap putih yang ketat. 

Jockstrap itu... sialan. Bikin kontolku langsung tegang melihat pantatnya yang bulat dan kencang terpajang sempurna. 

Otot-otot pahanya kelihatan jelas. Aku sudah membayangkan malam ini dia bakal ngentot aku keras-keras. Hasrat itu sudah meletup-letup sejak tadi.

Aku menoleh, tanganku merayap ke pinggulnya. 

“Sekarang entot gue,” bisikku serak.

Dia tersenyum tipis, tapi ada yang aneh di matanya. 

“Sebentar... aku sebenarnya bot juga.”

Hah?

Aku langsung bangkit duduk. 

“Apa? Lu bilang apa?”

“Iya, aku bot,” ulangnya pelan.

Kesel langsung naik ke kepala. 

“Terus kenapa dari pertama kenal di app lu bilang lu top?!”

Dia menggaruk tengkuk, masih berbaring dengan pose santai. 

“Gengsi aja. Cowok semuscle gue, masa boti? Orang-orang langsung judge.”

Aku tertawa sinis. 

“Bukan soal gengsi! Terus ngapain lu mau ketemu gue? Kan di profile gue juga jelas bot!”

“Karena... gue suka tipe lu,” jawabnya datar. “Gue kira bisa dicoba.”

“Dicoba gimana?! Aku juga bot, mana bisa ngentot lu!” suaraku mulai meninggi.

Dia malah mengangkang lebih lebar, jockstrapnya semakin menonjolkan kontolnya yang setengah tegang. 

“Ya udah sih, lu aja yang entot gue. Tinggal genjot doang, kan?”

Aku memandangnya dengan muak. Mood yang tadinya membara langsung padam total. 

Aku bangkit, meraih celana pendekku di lantai dan memakainya kasar. 

“Dah lah. Hilang mood gue. Sejak awal lu harusnya jujur.”

“Eh, tunggu,” katanya sambil tetap pose ngangkang.

“Tapi lu punya kontol kan?!” lanjutnya.

Pertanyaan itu malah bikin aku kesal. 

“Males ah sama lu.”

Aku langsung ambil kaos, jaket, dan tas kecilku. Tanganku gemetar karena campuran marah dan kecewa. 

Malam ini seharusnya indah. Aku sudah bayangkan dia menindihku, ngentot aku sampai aku mengerang manja. Ternyata cuma omong kosong.

Di depan pintu, aku menoleh sekali lagi. Dia masih berbaring di kasur dengan jockstrap sialan itu, tampak tidak bersalah.

“Next time, jujur dari awal,” kataku dingin sebelum membuka pintu. 

“Jangan buang-buang waktu orang.”

Aku keluar dan menutup pintu dengan agak keras. Koridor kamar kos terasa dingin. Langkahku cepat menuju tangga. 

Kontolku masih setengah tegang, tapi hatiku sudah mati rasa.

Malam yang seharusnya penuh desahan, berakhir dengan pintu yang tertutup dan hati yang kesal.

Posting Komentar untuk "Kenapa sejak awal lu gak jujur kalau boti?"