Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dia begitu menarik




Di puncak gunung yang sepi, angin pagi menyapu lembut seperti bisikan jiwa yang lama terpendam. 

Kabut tipis masih menari di antara pepohonan, sementara langit mulai mekar dengan warna jingga dan emas. 

Aku berdiri di depan tenda, tubuhku menggigil di balik jaket tebal, napas keluar sebagai uap putih yang cepat lenyap.

Barik duduk di atas batu besar, hanya mengenakan sempak abu tipis yang membalut pinggulnya dengan sempurna. 

Badannya proporsional—bahu lebar tapi tidak berlebihan, dada bidang yang naik-turun pelan, perut rata dengan garis otot halus yang terbentuk dari perjalanan alam yang tak terhitung. 

Kulitnya putih seperti susu yang baru dituang, halus, hampir berkilau di bawah sentuhan cahaya pertama matahari. 

Dia pendiam, kalem, tapi pagi ini ia tampak seperti bagian dari alam itu sendiri.

“Kamu gak kedinginan?” tanyaku pelan, suaraku hampir hilang ditelan angin.

Ia menggeleng pelan, senyum kecil menghiasi bibirnya yang tipis. 

“Enggak. Malah… dengan begini, aku bisa merasakan alam lebih intim. Dinginnya udara gunung yang menusuk tulang, dan hangat sepuhan matahari yang perlahan menyentuh kulit. Seperti pelukan yang berbeda, tapi sama-sama tulus.”

Aku terdiam, terpaku. Mataku tak bisa lepas dari lekuk bahunya, dari garis punggung yang tegap, dari betisnya yang kokoh menapak batu. Ada sesuatu yang lembut dalam ketegarannya. 

Aku melangkah mendekat, duduk di sampingnya. Batu terasa dingin di balik celana, tapi kehangatan yang kurasakan datang dari dekatnya.

“Kamu selalu lebih suka ke sini,” kataku, memecah keheningan. “Ke alam, daripada ke keramaian kota, gedung-gedung mewah, atau tempat-tempat yang orang bilang indah. Kenapa?”

Barik menatap horizon, mata cokelatnya memantulkan cahaya matahari yang baru lahir. 

“Karena di sini tak ada topeng. Alam tak berpura-pura. Ia menerima kita apa adanya—dengan segala getar, getar kecil di dada yang tak bisa dijelaskan kata-kata.”

Aku mengangguk. 

“Aku kedinginan banget, padahal pakai jaket tebal. Kamu… cuma sempak, tapi kelihatan begitu tenang.”

Ia tertawa kecil, suara itu seperti alunan angin di dedaunan. Lalu, tanpa kata, tangannya yang hangat merangkul bahuku. 

Tubuhnya mendekat. Aroma tubuhnya menyeruak—wangi sabun gunung yang segar, bercampur bau tanah basah dan sesuatu yang manly, maskulin, menenangkan. 

Jantungku berdegup kencang. Aku ingin sekali menyandarkan kepala di bahunya yang bidang, merasakan kulitnya yang halus menyentuh pipiku, membiarkan napas kami menyatu dengan ritme alam.

Tapi aku menahan diri. Ini terlalu berlebihan, batin ku. Takut ia berpikir macam-macam. Takut persahabatan ini retak hanya karena getar yang aku rasakan sendirian.

Namun Barik tak melepaskan rangkulannya. Jari-jarinya mengusap pelan lenganku, seolah mengalirkan kehangatan yang tak hanya dari matahari. 

“Kamu tak perlu takut kedinginan,” bisiknya, suaranya rendah dan penuh kelembutan. 

“Di sini, kita bisa saling hangatkan.”

Matahari terbit sepenuhnya, membasuh kami dengan cahaya keemasan. Di antara dinginnya angin dan kehangatan pelukannya, aku merasakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persahabatan. 

Sebuah perasaan yang tumbuh pelan, seperti bunga edelweiss di celah-celah batu—rapuh, tapi indah, dan penuh harap.

Di puncak itu, dua jiwa yang pendiam mulai berbicara dalam bahasa yang tak perlu kata. Hanya debar, hanya sentuhan, hanya romansa yang lahir dari alam yang suci.

Posting Komentar untuk "Dia begitu menarik"