Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masih Kokoh dan P³rk⁴s⁴



Pagi itu, sinar matahari Januari menyelinap pelan melalui celah gorden kamar. 

Rina membuka mata perlahan, masih setengah terlelap, tapi sudah merasakan kehangatan tubuh suaminya, Dika, yang tidur miring menghadapnya. 

Selimut tipis hanya menutupi pinggang mereka berdua. Napas Dika teratur, dalam, seperti orang yang baru saja keluar dari mimpi panjang.

Rina tersenyum kecil. Matanya turun perlahan, mengikuti garis bahu lebar suaminya, lalu perut yang masih rata meski usia sudah menginjak tiga puluh lima, hingga akhirnya berhenti di sana—di tonjolan kain boxer abu-abu yang sudah sangat akrab baginya.

Pagi ini kontol Dika sedang berdiri tegak, tegas, hampir menembus kain tipis itu. 

Bentuknya jelas terlihat: kepala yang membulat penuh, urat-urat halus yang menonjol di sepanjang batang, dan warna kulit yang sedikit lebih gelap di bagian bawah. 

Ereksi pagi yang klasik, tanpa sentuhan, tanpa mimpi erotis yang dia tahu—hanya tubuh yang jujur mengatakan semuanya masih berjalan baik.

Rina menggigit bibir bawahnya pelan. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, bukan karena terkejut, tapi karena rasa familiar yang selalu muncul setiap kali melihat “pagi-pagi begini”. 

Dia tahu betul arti tanda itu: pembuluh darah lancar, hormon masih ganas, saraf parasimpatis bekerja tanpa cela. 

Tapi pagi ini, pengetahuan ilmiah itu malah membuat hasratnya lebih dalam—seperti membuktikan bahwa pria yang dicintainya masih sehat, masih miliknya sepenuhnya.

Dia menggeser tubuh perlahan, tak ingin membangunkan Dika terlalu mendadak. 

Jari-jarinya menyusuri dada suaminya, turun ke perut, lalu berhenti tepat di pinggir boxer. 

Dengan gerakan lembut, dia menarik kain itu ke bawah hanya beberapa senti—cukup untuk membebaskan ereksi itu sepenuhnya.

Kini kontol Dika terpampang telanjang di udara pagi yang sejuk. 

Tegak sempurna, hampir menyentuh pusar, kepalanya mengkilap tipis karena sedikit cairan pra-ejakulasi yang sudah merembes keluar. 

Rina menahan napas. Cairan itu bening, licin, tidak banyak—tanda tubuh sedang mempersiapkan diri dengan sempurna, menetralkan saluran, melumasi sebelum segalanya dimulai.

“Pagi, Mas…” bisik Rina sambil menempelkan bibirnya tepat di telinga Dika.

Dika menggumam, matanya masih terpejam, tapi pinggulnya secara refleks maju sedikit, mencari sentuhan. “Udah bangun dari tadi ya kamu?” suaranya serak khas bangun tidur.

“Enggak tahan lihat laporan kesehatan pagi ini,” jawab Rina sambil tersenyum nakal. 

Tangannya akhirnya menyentuh—hanya ujung jari dulu, mengelus pelan dari pangkal hingga ke kepala yang panas itu. 

Dika mendesah panjang, matanya akhirnya terbuka, langsung bertemu pandangan istrinya yang sudah penuh api.

“Masih keras banget…” Rina berbisik lagi, jarinya sekarang melingkar perlahan di batang itu, merasakan denyut nadi yang kuat di bawah kulit. 

“Ini artinya jantung Mas sehat, pembuluh darah lancar, testosteron oke… semuanya sempurna.”

Dika tertawa kecil, tangannya meraih pinggang Rina dan menariknya lebih dekat. 

“Dokter pagi ini mau periksa lebih lanjut ya?”

Rina tak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menurunkan kepalanya, mencium ujung kontol suaminya dengan lembut—hanya kecupan ringan, tapi cukup membuat Dika mengerang pelan. 

Rasa asin manis cairan alami itu menyentuh lidahnya, dan dia tahu itu tanda lain dari kesehatan yang prima: tidak ada bau aneh, tidak ada peradangan, hanya cairan jernih yang tubuh produksi dengan tulus.

Dia menjilat lagi, kali ini lebih lama, lidahnya melingkar di sekeliling kepala yang sensitif itu. 
Dika menggenggam rambut istrinya, bukan untuk memaksa, tapi untuk menahan gelombang kenikmatan yang mulai naik. “Rin… pelan-pelan…”

“Tapi Mas yang pagi-pagi udah kasih sinyal begini,” balas Rina sambil menatap ke atas, matanya penuh godaan. 

“Aku cuma mau pastikan semuanya benar-benar sehat… dari dekat.”

Dia kemudian menelannya perlahan, mulutnya hangat dan basah menyelimuti batang itu hingga ke pangkal. 

Dika menggelinjang, napasnya tersengal. Rina tahu persis ritme yang disukai suaminya—gerakan lambat dulu, lalu semakin cepat, lidah menari di bagian bawah yang paling sensitif, tangan memijat pelan testis yang terasa kenyal dan penuh.

Tak lama kemudian Dika menarik tubuh Rina naik, membalikkan posisi dengan cepat. Kini Rina terbaring di bawahnya, kakinya terbuka lebar, celana dalam sudah lenyap entah ke mana. 

Dika menatap istrinya lama, lalu menurunkan pandangan ke kontolnya sendiri yang masih tegak sempurna, mengkilap karena air liur Rina.

“Ini laporan lengkapnya,” bisik Dika sambil mengarahkan ujungnya tepat di bibir vagina Rina yang sudah basah. 

“Masih bisa bikin istri puas setiap pagi. Masih bisa tahan lama. Masih bisa keluar banyak… dan sehat.”

Satu dorongan pelan, dan dia masuk sepenuhnya. Rina mengerang keras, punggungnya melengkung. 

Mereka bergerak bersama, ritme pagi yang lambat tapi dalam—seperti sedang membaca satu sama lain tanpa kata. 

Setiap dorongan adalah pengingat: tubuh ini masih kuat, masih saling menginginkan, masih sehat.

Saat klimaks mendekat, Dika mempercepat gerakan. Rina mencengkeram punggung suaminya, kuku-kukunya meninggalkan bekas tipis. 

Dan ketika akhirnya Dika melepaskan semuanya di dalam, cairan hangat yang banyak dan kental itu mengalir—tanda lain dari kesehatan yang sempurna: volume baik, konsistensi pas, tanpa rasa sakit.

Mereka terdiam beberapa saat, hanya napas saling kejar. Rina mencium kening Dika, lalu berbisik di telinganya.

“Laporan kesehatan pagi ini… lulus dengan nilai sempurna, Mas.”

Dika tersenyum lebar, masih di dalam tubuh istrinya. “Besok pagi diperiksa ulang ya, Dokter?”

Rina hanya tertawa pelan, lalu menarik selimut menutupi mereka berdua—membiarkan pagi berlanjut dengan kehangatan yang baru saja mereka ciptakan.

Posting Komentar untuk "Masih Kokoh dan P³rk⁴s⁴"