Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebelum Subuh (Lagi)


Tiga hari kemudian, hujan deras mengguyur Jakarta seperti air mata yang tak kunjung berhenti. 

Arya menelepon Milo pagi-pagi, suaranya bergetar di balik suara petir. 

"Gue di apartemen lu aja malam ini. Bokap lagi ke luar kota." 

Milo cuma bilang "Dateng aja," tapi jantungnya berdegup kencang. 

Puasa Arya sudah lewat, dan rindu yang tiga hari lalu cuma pelukan sekarang jadi api yang membara.

Milo membuka pintu dengan kaus basah keringat, apartemen kecilnya berantakan seperti pikirannya. 

Arya masuk, rambut basah meneteskan air ke lantai. Mereka tak bicara banyak. 

Arya langsung menarik Milo ke kamar, tangannya kasar, penuh hasrat yang tertahan. 

"Kali ini gue yang duluan," bisik Arya, mata hitamnya penuh janji.

Mereka buka baju cepat, seperti binatang liar. Badan Milo lebih ramping, otot perutnya tegang di bawah sentuhan Arya. 

Arya mendorong Milo ke ranjang, lututnya menekan paha Milo terbuka lebar. 

"Lu siap?" tanya Arya, suaranya serak. Milo mengangguk, tangannya mencengkeram sprei. 

Arya ambil pelumas dari laci—botol murah yang mereka beli online dulu—dan oleskan ke kontolnya yang sudah tegang, urat-uratnya menonjol seperti sungai yang mengalir darah panas.

Arya dorong pelan dulu, kepala kontolnya menyentuh lubang Milo yang hangat, ketat. Milo menggigit bibir, napasnya tersengal. 

"Pelan, anjing," desis Milo, tapi matanya bilang lagi. 

Arya tekan lebih dalam, inci demi inci, merasakan dinding dalam Milo yang memeluk erat. 

"Fuck, lu masih ketat banget," gumam Arya, pinggulnya mulai gerak maju mundur. 

Milo mengerang, tangannya meraih punggung Arya, kuku menusuk kulit. Ritme bertambah cepat, suara kulit bertabrakan basah, keringat campur pelumas.

Arya ngebut, kontolnya keluar masuk seperti piston, menyentuh spot dalam Milo yang bikin dia melengkung. 

"Arya... gue mau keluar," jerit Milo, tangannya meremas kontolnya sendiri, gerak cepat. 

Arya tarik pinggul Milo lebih dekat, dorong dalam sekali, dan mereka keluar bareng—Milo muncrat ke perutnya sendiri, Arya di dalam, panas dan lengket.

Mereka rebah sebentar, napas berat. Tapi Milo bangun, mata penuh balas dendam. 

"Giliran gue sekarang." Dia balik posisi, Arya di bawah. Milo oles pelumas ke kontolnya, jarinya dulu masukin satu, dua, buka jalan. 

Arya mengerang, "Cepet, Mil. Gue pengen lu di dalam." Milo dorong, lubang Arya lebih longgar tapi tetap enak, memeluk kontol Milo seperti rumah yang lama ditinggal.

Milo gerak lambat dulu, rasakan setiap sentuhan. 

"Lu suka gini, ya? Gue yang ngebor lu," bisik Milo, tangannya meremas dada Arya. Arya angguk, pinggulnya naik turun ikut ritme. 

Milo percepat, kontolnya keluar masuk kasar, suara basah dan erangan campur aduk. 

Arya raih kontolnya, onani cepat, mata tertutup nikmat. 

"Keluarin di dalam, Mil. Gue mau rasain lu," desah Arya.

Milo dorong terakhir, muncrat dalam, hangat banjir. Arya ikut, air maninya ke dada Milo. Mereka rebah, tubuh saling lengket, keringat dan sperma campur.

"Gue takut ini cuma sementara," kata Arya pelan, tangannya membelai rambut Milo.

Milo cium keningnya. "Mungkin. Tapi setiap kali kita gini, rasanya selamanya."

Di luar hujan reda. Di dalam, api mereka masih menyala, tak pernah padam.

Posting Komentar untuk "Sebelum Subuh (Lagi)"