Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebelum Subuh


Arya membuka pintu apartemen dengan kaus oblong lusuh dan celana pendek olahraga yang sudah longgar di pinggang. 

Rambutnya masih basah, baunya sabun mandi yang dulu biasa mereka beli bareng di warung dekat sekolah. 

Milo berdiri di ambang pintu, tas selempang masih di bahu, mata langsung mencari-cari bekas luka kecil di dagu Arya yang dulu sering dia sentuh sambil tertawa.

“Gila, lu beneran pulang,” kata Milo, suaranya serak karena perjalanan malam dari Jakarta.

Arya cuma nyengir, menarik lengan Milo masuk. “Masuk dulu, anjing. Bau keringet lu sampe sini.”

Pintu ditutup pelan. Lampu ruang tamu cuma dinyalakan satu bohlam kecil di sudut. 

Mereka langsung ke kamar, tanpa banyak omong. Ranjang king-size milik Arya—hadiah ulang tahun dari bokap yang jarang pulang—terlihat terlalu besar untuk satu orang. 

Sprei putihnya kusut, bantal-bantal sudah berantakan seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.

Milo melepas sepatu, kaus, celana jeans, tinggal boxer hitam polos. 

Arya ikut buka baju, badannya lebih berisi sekarang, otot lengan yang dulu cuma benjolan kecil sudah jadi tegas. 

Mereka berdua naik ke ranjang, tanpa kata-kata lagi. Milo merangkak ke belakang Arya, dada menempel punggung, lengan melingkar di perut yang hangat itu. 

Arya menghela napas panjang, kepala menyandar ke bahu Milo.

“Lu tambah bau,” bisik Arya, tapi tangannya malah mencari tangan Milo, menautkan jari.

“Lu juga. Bau sabun colek sama keringet,” balas Milo. 

Hidungnya menempel di tengkuk Arya, menghirup dalam-dalam. Bau itu seperti waktu SMA: ruang OSIS yang pengap, lorong belakang gedung yang gelap, ciuman pertama yang terburu-buru dan penuh rasa takut ketahuan.

Mereka diam lama. Hanya dengar napas masing-masing, detak jantung yang saling kejar. 

Tangan Milo pelan-pelan mengelus perut Arya, jari-jarinya menyusuri garis rambut halus yang menurun ke bawah pusar. 

Bukan untuk membangkitkan, cuma untuk merasakan. Arya menggenggam tangan itu, menahannya di sana, seperti takut dilepas.

“Gue kangen banget, bro,” kata Milo, suaranya hampir pecah. “Tiap buka chat lu, rasanya mau nangis. Lu tau nggak?”

Arya menoleh sedikit, bibirnya menyentuh pipi Milo. 

“Tau. Gue juga. Tiap malam mikirin lu, mikirin kita dulu. Mikirin kalau kita nggak berhenti waktu itu… mungkin sekarang udah beda.”

Milo tertawa kecil, getir. “Beda gimana? Nikah? Punya anak? Atau cuma tetep sembunyi-sembunyi kayak gini?”

“Entah. Yang jelas, gue nggak nyesel ketemu lu lagi malam ini.”

Tangan Arya naik, membelai rambut Milo yang pendek. Milo mencium pundak Arya, pelan, lama. 

Kulitnya hangat, sedikit asin karena keringat tipis. Mereka bergeser, sekarang saling berhadapan. 

Kaki saling kait, paha menempel paha. Milo menarik selimut sampai menutupi pinggang mereka berdua. 

Gelap, tapi mata mereka sudah terbiasa. Milo bisa lihat bulu mata Arya yang panjang, bibir yang sedikit terbuka, napas yang bergetar.

“Gue pengen nyanyi lagu dulu yang kita suka,” kata Arya tiba-tiba.

“Yang mana?”

“Yang ‘Kau Terindah’ itu. Tapi gue lupa liriknya.”

Milo tersenyum, mulai bersenandung pelan. Suaranya fals, tapi Arya ikut, suaranya lebih rendah, lebih dalam. 

Mereka nyanyi bareng sampai habis, sampai suara jadi bisik, sampai akhirnya cuma dengung kecil di dada masing-masing.

Subuh masih jauh. Milo tahu jam di kepalanya: masih ada waktu sebelum azan pertama. Tapi dia ingat pesan Arya tadi sore di chat: “Besok gue puasa, Mil. Jadi… jangan yang aneh-aneh ya. Cuddle aja.”

Milo nggak masalah. Toh yang dia rindukan bukan kontol Arya yang keras atau lubang yang sempit. 

Yang dia rindukan adalah ini: tubuh Arya yang pas di pelukannya, napas yang sama-sama berat, jantung yang berdetak tak karuan karena takut, karena rindu, karena cinta yang nggak pernah punya nama resmi.

“Lu masih suka gue, kan?” tanya Milo, hampir tak terdengar.

Arya menarik Milo lebih dekat, sampai hidung mereka bersentuhan. “Masih. Selalu. Cuma… kita nggak bisa punya selamanya.”

Milo mengangguk pelan. “Gue tau. Tapi malam ini, lu punya gue. Dan gue punya lu.”

Mereka diam lagi. Hanya pelukan, hanya kehangatan kulit, hanya rasa yang terlalu penuh untuk diucapkan. Di luar, kota masih tidur. 

Di dalam, dua anak dua puluh tahun saling memeluk seperti besok nggak akan datang.

Dan untuk beberapa jam, itu cukup.

Posting Komentar untuk "Sebelum Subuh"