Dompet Tipis, Otot Harus Tetap Kokoh, Curhat Dika ke Rimbo Soal Protein Murah tapi Berotot
Dika menatap layar ponselnya sambil rebahan di kasur kos yang pegasnya sudah menyerah pada hidup.
Aplikasi m-banking terbuka. Saldo: angka kecil yang menyedihkan. Kecil tapi jujur. Ia menghela napas panjang, napas orang yang ingin hidup sehat tapi dompetnya sedang diet ekstrem.
“Bro, gue mau jaga badan, tapi uang gue lebih kurus dari pinggang model runway,” keluh Dika pada Rimbo, teman sekamarnya, yang sedang duduk di balkon sambil ngopi hitam tanpa gula—kopi pahit, hidup realistis.
Rimbo melirik, senyum miring. “Lu mau protein kan? Bukan wagyu kan?”
Dika bangkit, duduk. “Protein, Bo. Otot gue mulai kempes. Gym jalan terus, tapi isi perut makin ngenes.”
Rimbo tertawa kecil. “Lu mikir protein itu harus mahal. Itu kesalahan filsafat tingkat awal.”
Ia menunjuk dapur kos yang ukurannya lebih cocok disebut sudut refleksi hidup. “Telur, lele, nila. Tiga serangkai penyelamat pria bokek tapi berprinsip.”
Dika mengernyit. “Telur tiap hari? Kolesterol, bro.”
Rimbo menggeleng pelan, seperti dosen sabar menghadapi mahasiswa salah baca jurnal. “Kolesterol itu bahan baku hormon. Testosteron lu bukan lahir dari angin kos. Selama lu aktif dan nggak makan gorengan satu wajan, telur aman. Putihnya buat otot, kuningnya buat hormon. Itu makanan utuh, bukan mitos.”
Dika terdiam. Masuk akal. Perutnya juga setuju, ditandai bunyi lirih seperti modem tua.
“Kalau ikan?” tanya Dika.
“Nila dulu,” jawab Rimbo. “Protein tinggi, lemak rendah. Cocok buat hari-hari biasa. Badan lu butuh asam amino, bukan drama minyak. Nila itu kalem, tapi kerja.”
“Lele?”
“Lele itu tenaga cadangan,” kata Rimbo sambil menyeruput kopi. “Lebih berlemak, lebih ngenyangin. Cocok kalau lu habis kerja fisik atau lagi ngejar naik berat badan. Tapi jangan digoreng sampai lupa identitas.”
Dika tertawa. “Jadi gue masih bisa hidup sehat tanpa jadi fakir protein?”
“Justru itu,” ujar Rimbo. “Hidup sehat itu bukan soal mahal. Itu soal ngerti fungsi. Telur buat harian, nila buat makan utama bersih, lele buat isi bensin tubuh. Kombinasi, bukan fanatisme.”
Malam itu, Dika ke warung depan kos. Ia pulang membawa telur sekilo dan dua ekor lele. Tidak glamor, tapi penuh harapan. Di dapur sempit, ia merebus telur sambil tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia merasa menang melawan saldo.
Sambil makan, Dika bergumam, “Dompet boleh tipis, tapi prinsip jangan.”
Rimbo mengangguk. “Dan otot jangan ikut menghilang.”
Di kos kecil itu, dua pria dewasa belajar satu hal penting: kesehatan bukan soal gengsi, tapi konsistensi. Dan protein, ternyata, tidak peduli isi dompet—asal otak mau mikir.

Posting Komentar untuk "Dompet Tipis, Otot Harus Tetap Kokoh, Curhat Dika ke Rimbo Soal Protein Murah tapi Berotot"