Si Atletis Arga
Arga berdiri di depan pintu rumahku sore itu, tas ransel lusuh di pundak, senyum malu-malu yang sama kayak pertama kali kami ketemu di desa.
Rambutnya masih acak-acakan gara-gara perjalanan bus panjang. Aku langsung peluk dia di teras, nggak peduli tetangga ngintip.
“Masuk, Ga. Kamar aku udah siap,” bisikku sambil tarik tangannya masuk.
Malam itu, setelah makan malam cepat, kami langsung ke kamar.
Lampu meja aku redupin, cuma tinggal cahaya kuning samar dari sudut.
Arga duduk di pinggir kasur, mukanya tegang tapi matanya penuh harap. Aku dekati dia, buka kancing bajunya satu per satu.
Badannya masih sama kekar, kulitnya cokelat eksotis yang bikin aku pengen gigit.
“Kak… aku deg-degan banget,” katanya pelan sambil tarik napas dalam.
“Tenang aja. Kita pelan-pelan,” jawabku sambil cium lehernya. Bau sabun campur keringat perjalanan, entah kenapa bikin aku makin panas.
Aku dorong dia telentang, buka celananya. Kontolnya udah ngaceng keras, masih kecil tapi tebal, urat-uratnya kelihatan jelas.
Aku kulum dulu sebentar, biar dia rileks. Dia mengerang pelan, tangannya pegang rambutku.
“Ahh… Kak, enak…”
Setelah basah banget, aku naik ke atasnya. Aku olesin pelumas yang aku siapin di meja, lalu posisikan diri.
Arga pegang pinggulku, matanya nggak lepas dari wajahku. Aku turunin badan pelan-pelan, rasanya penuh meski ukurannya nggak gede. Dia mendesah panjang pas masuk separuh.
“Pelan ya, Kak…” katanya, suaranya gemetar.
Aku gerak pelan dulu, naik-turun sambil putar pinggul. Sensasinya enak banget, kontolnya tebal bikin dinding dalam aku tertekan pas.
Arga mulai dorong pinggulnya ke atas, ikut ritme.
“Kak… lebih cepat boleh?” tanyanya, napasnya udah ngos-ngosan.
Aku percepat, badan kami beradu pelan, bunyi kulit ketemu kulit campur desahan.
Tanganku pegang dadanya yang keras, jari-jariku mainin putingnya. Dia tiba-tiba balik posisi, sekarang dia di atas.
Badannya menekan aku ke kasur, tangannya pegang pergelangan tanganku di atas kepala.
“Giliran aku, Kak,” bisiknya sambil cium bibirku kasar.
Dia mulai ngentot lebih dalam, keluar-masuk dengan ritme stabil. Setiap dorongan bikin aku mendesah keras.
“Ga… ahh… dalem lagi…” pintaku. Dia tambah cepat, pinggulnya bergerak lincah kayak orang desa yang biasa angkat kayu. Keringat kami campur, kasur berderit pelan.
Aku rasain dia makin tegang, kontolnya berdenyut di dalam.
“Kak… aku mau keluar…” katanya terengah.
“Keluarin aja di dalam,” jawabku sambil peluk pinggangnya erat.
Dia dorong beberapa kali lagi, lalu mengerang panjang. Sperma panas muncrat di dalam aku, kental dan banyak, aku bisa rasain denyutannya berulang-ulang.
Dia ambruk di atas badanku, napasnya berat. Kami diam sebentar, cuma dengar detak jantung masing-masing.
“Gila… Kak, aku nggak nyangka bisa begini,” katanya sambil cium keningku.
Besok paginya, kami jalan-jalan keliling kota. Arga pakai kaos oblong hitam yang aku pinjamin, celana jeans lusuhnya masih bau desa.
Aku ajak dia ke taman kota dulu, foto-foto di spot Instagramable yang biasa aku skip.
Dia excited banget, “Wah, kota gede banget ya, Kak. Banyak mobil!”
Siangnya aku ajak nongkrong di kafe favoritku bareng temen-temen. Ada Dito, Reza, sama Vina yang langsung ngegosip pas lihat Arga.
“Eh, ini siapa? Pacar baru?” tanya Vina sambil nyengir jail.
“Ini Arga, temen dari desa,” jawabku santai sambil pegang tangan Arga di bawah meja.
Arga canggung banget, tapi dia berusaha ikut ngobrol.
“Iya. Baru pertama kali ke sini,” katanya sambil senyum lebar.
Temen-temenku langsung ngerubung, nanya macem-macem soal desa, sawah, sungai. Arga cerita sambil ketawa, badannya rileks pelan-pelan.
Pas pesen kopi, Reza bisik ke aku, “Bro, dia manis banget. Jangan dilepas ya.”
Aku cuma senyum, sambil ngelirik Arga yang lagi nyeruput es kopi susunya pelan-pelan.
Matanya ketemu mataku, dia kedip pelan. Aku tahu, liburan desa yang dulu cuma 3 minggu, sekarang udah bawa pulang satu cowok desa yang bikin hidupku berubah.
Malam nanti, dia bakal nginap lagi di kamarku. Dan aku yakin, kami belum selesai.

Posting Komentar untuk "Si Atletis Arga"