Pijat Nikmat
Aku pesan jasa pijat ke kamar hotel karena badan remuk setelah naik motor seharian dari Surabaya ke Bandung.
Yang datang cowok umur sekitar 28, tinggi 180-an, rambut cepak rapi, rahang tegas, lengan berotot tapi nggak lebay kayak binaragawan.
Kemeja semi formal nempel di dada dan perut eight-pack yang samar-samar kelihatan.
Namanya Rio, katanya. Suaranya dalam, tenang, sopan. Langsung bikin aku deg-degan bukan main.
“Mas, untuk hasil maksimal, lebih baik telanjang bulat ya,” katanya sambil membentangkan handuk di atas kasur.
“Kalau masih pakai celana dalam atau boxer, aliran limfe di daerah inguinal dan pelvic akan terhambat. Otot psoas, iliacus, sama adductors juga nggak bisa diakses penuh. Plus, kain apa pun bikin friksi tambahan, bisa bikin iritasi kulit kalau dipijat lama.”
Aku cuma bisa manggut-manggut, pura-pura paham istilah-istilah itu. Padahal otakku udah kebayang hal lain.
Aku lepas kaos, celana, celana dalam—semuanya. Kontolku langsung setengah berdiri begitu angin AC kena kulit.
Malu, tapi juga nggak bisa bohong: aku ngaceng parah. Kepala penis udah mengkilap sedikit, urat-urat di batangnya kelihatan jelas. Aku buru-buru selonjoran tengkurap, sembunyiin muka di bantal.
Rio cuma senyum tipis. “Santai aja, Mas. Biasa kok.”
Dia tuang minyak hangat ke punggungku. Bau kayu cendana dan sedikit mint.
Telapak tangannya lebar, kuat, hangat. Mulai dari bahu, turun ke trapezius, lalu ke latissimus dorsi.
Jempolnya menekan titik-titik trigger dengan presisi, kayak tahu persis di mana saraf terjepit.
Aku mendesah pelan—bukan desah mesum, tapi desah lega karena nyeri di punggung yang udah setahun nggak ilang tiba-tiba mencair.
Dia lanjut ke punggung bawah, ke erector spinae, ke quadratus lumborum.
Tangan-tangannya meluncur mulus di kulitku yang licin minyak. Kadang bokongku tersenggol siku atau lengan bawahnya, tapi cuma senggolan kerja, bukan godaan.
Dia nggak pernah menyentuh celah bokong, nggak pernah jari-jarinya nyelonong ke lubang anus, nggak pernah “tanpa sengaja” menyapu kantung atau batang kontolku yang masih tegang di bawah perut.
Aku menunggu. Menunggu momen dia pura-pura salah pencet, atau tiba-tiba bisik “Mau tambah paket happy ending, Mas?” Tapi nggak ada.
Dia profesional banget. Bahkan saat memijat paha dalam—bagian yang paling riskan—dia tetap fokus ke sartorius, gracilis, adductor magnus.
Jempolnya menekan titik-titik akupresur di selangkangan, tapi nggak pernah melenceng ke skrotum atau pangkal kontol.
Aku malah makin keras, tapi dia cuek. Napasnya tetap teratur, gerakannya mekanis, terlatih.
Satu jam berlalu. Dia akhiri dengan pijatan ringan di kepala, leher, dan tarik-tarik jari kaki.
Badanku terasa ringan, seperti habis lepas beban ratusan kilo. Nyeri di pinggang hilang, pundak yang biasa kaku jadi lentur.
Aku balik badan pelan-pelan, kontol masih setengah ngaceng, tapi Rio cuma ambil handuk kecil, lap sisa minyak di tangannya, lalu bilang,
“Selesai, Mas. Minum air putih banyak ya, biar racun keluar.”
Aku duduk, masih telanjang, masih setengah tegang. Dia nggak melirik ke bawah sama sekali.
Cuma senyum ramah sambil membereskan botol minyak. “Makasih ya, Mas. Kalau butuh lagi, WA aja.”
Pintu ditutup pelan. Aku sendirian di kamar, badan enteng, pikiran jernih, tapi kontol masih setengah berdiri karena malu dan kecewa sekaligus puas.
Aku salah sangka dia bakal ngajak main. Tapi anehnya, aku nggak kesel. Malah seneng. Sekujur tubuhku tadi disentuh cowok ganteng, badan atletis, tangan terampil—dan itu semua murni pijat.
Tanpa drama, tanpa harapan mesum yang dipaksakan.
Aku rebahan lagi, tersenyum sendiri. Mungkin besok aku pesen lagi. Bukan karena ngarep dia nyentuh kontolku. Tapi karena rasanya enak banget dipijat sama orang yang beneran jago, dan kebetulan wajahnya bikin jantung bergetar.

Posting Komentar untuk "Pijat Nikmat"