Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak Kos Idola




Namanya Figo. Di kompleks kos sempit ini, dia seperti dewa kecil yang tak perlu berusaha jadi pusat perhatian—dia memang sudah jadi. 

Tinggi 185, kulit sawo matang merata, rahang tegas, mata sipit yang selalu setengah tertutup seolah dunia terlalu membosankan baginya. 

Badannya? Bukan gym bro yang lebay, tapi atletis alami: bahu lebar, lengan berurat halus, perut six-pack yang muncul pas dia angkat kaos untuk lap keringat. 

Dan yang paling bikin orang gelisah: celana pendek olahraga abu-abu tua yang selalu dia pakai waktu sore, bahannya tipis, potongannya pas, jadi setiap gerakan otot paha dan tonjolan di selangkangannya jelas terbaca.

Aku? Hanya penghuni kamar 108 yang biasa saja. Kerja remote, jarang keluar, lebih sering duduk di lantai kamar sambil buka laptop atau… buka celana.

Sore itu seperti biasa. Jam lima lelet, matahari sudah jingga rendah. Figo keluar dari kamar 201, kaos hitam ketat tanpa lengan, celana pendek abu-abu itu lagi. Dia bawa botol air besar sama handuk kecil digantung di bahu. 

Mulai stretching di selasar—complex ini kan cuma lorong panjang dengan pagar besi rendah, jadi siapa pun di kamar seberang bisa lihat jelas.

Dia berdiri menghadap ke arah kamarku. Kaki dibuka selebar bahu, tangan ke atas, badan melengkung ke belakang. 

Kaosnya tersingkap, perutnya terlihat penuh, garis V di pinggulnya menukik tajam masuk ke dalam celana. Aku langsung tarik gorden sedikit, tinggal celah lima senti. Jantungku sudah deg-degan duluan.

Dia turun squat. Pelan. Dalam. Tiap turun, kain celana itu menegang, membentuk paket depannya dengan sangat gamblang. Bentuknya tebal, agak ke kiri, kepalanya jelas terpisah dari batang. 

Aku bisa lihat garis samar warna kulit lebih gelap di ujung kain yang basah keringat. Dia naik lagi, turun lagi, naik lagi—gerakan itu seperti sengaja diperlambat untuk menyiksa.

Aku sudah lepas celana. Kontolku berdiri keras sejak dia mulai push-up tadi. Aku duduk bersandar dinding, kaki terbuka, tangan kanan langsung pegang batang sambil jempol menggosok kepala yang sudah licin. Mataku tak lepas dari Figo.

Sekarang dia lagi plank. Badan lurus, bokong sedikit naik, celana ketat menempel sempurna di belahan pantatnya yang keras. Tiap tarikan napas, otot punggungnya bergerak, bahunya melebar. 

Aku bayangkan kalau aku ada di bawahnya, lidahku menjilat garis keringat yang mengalir dari leher ke dada, turun ke perut, lalu masuk ke pinggiran celana itu, mencium bau sabun mandi campur keringat cowok.

Dia bangkit, ambil botol air, teguk banyak. Air tumpah sedikit, mengalir dari dagu ke leher, ke dada. Kaosnya basah di bagian tengah, nempel transparan, putingnya cokelat muda kelihatan samar. 

Lalu dia angkat kaosnya tinggi-tinggi buat lap muka—seluruh perut, dada, sampai ke bawah dada terbuka lebar. 

Aku lihat rambut halus di bawah pusar, garis hitam tipis yang menghilang masuk ke celana. Kontolku berdenyut keras. Jempolku sudah penuh precum.

Figo balik badan, mulai pull-up di tiang besi pagar. Punggung lebar, lengan menonjol, bokongnya menegang setiap tarikan. Celana pendek itu naik sedikit, memperlihatkan garis paha belakang yang keras. Aku tak tahan lagi. 

Gerakan tanganku cepat, kasar. Bayangan kepala kontolnya yang tebal itu muncul di pikiranku, membayangkan rasanya di mulut, berat di lidah, baunya asin-maskulin.

Dia turun dari pull-up, napas ngos-ngosan. Keringat menetes dari ujung rambut. Lalu—entah sadar atau tidak—dia tarik celana pendeknya sedikit ke bawah supaya tidak nyangkut di paha. 

Sekilas, aku lihat garis pangkal kontolnya, kulit lebih gelap, bulu hitam pendek. Hanya sepersekian detik, tapi cukup.

Aku meledak. Cairan panas menyembur ke perutku, ke lantai, ke ujung jari. Aku menggigit bibir keras supaya tak bersuara. Badanku gemetar, pandangan buram sesaat.

Figo sudah masuk lagi ke kamarnya. Pintu ditutup pelan. Selasar kos kembali sepi.

Aku bersandar lemas di dinding, napas masih tersengal, tangan masih lengket. Di luar, lampu selasar mulai menyala kuning redup.

Besok sore, aku tahu, dia akan workout lagi.

Dan aku akan ngintip lagi.

Posting Komentar untuk "Anak Kos Idola"