Kuli Kesayanganku
Siang itu panas menyengat di lokasi pembangunan apartemenku. Aku datang untuk ngecek progres, pakai tanktop ketat dan rok pendek. Tapi mata langsung salfok ke satu kuli yang sedang angkat besi beton.
Tubuhnya atletis, otot punggung dan lengan menggembung basah keringat.
Kaosnya basah menempel, memperlihatkan perut six-pack yang keras.
Bau keringat pria pekerja keras menyengat, campur tanah dan debu, tapi entah kenapa malah bikin memekku berdenyut.
Dia nyata kuli. Gerakannya kasar, efisien, tanpa pura-pura. Tapi ototnya kokoh banget, bahu lebar, lengan tebal. Aku mendekat.
“Kamu, ikut aku sebentar.”
Namanya Joo. Dia mengikuti tanpa banyak tanya, wajahnya bingung tapi patuh.
Di mobil, aku bilang langsung, “Kamu ikut ke apartemenku. Mandi dulu, habis itu aku kasih bonus besar kalau mau ngentot aku. Kalau nolak, besok kamu aku pecat.”
Joo diam sesaat, tapi tatapannya turun ke dada dan paha telanjangku.
“Bu… beneran?”
Di apartemen, aku suruh dia buka baju. Tubuhnya luar biasa, dada bidang, perut keras, dan kontolnya sudah setengah tegang menggantung berat di antara paha tebal.
“Mandi. Sabun dari kepala sampai ujung kaki. Aku tunggu di kamar.”
Sepuluh menit kemudian Joko keluar, handuk melilit pinggang, rambut basah menetes. Bau keringat hilang, diganti sabun maskulin. Aku telanjang di ranjang, memek sudah basah.
“Lepas handuknya.”
Kontolnya langsung loncat bebas, besar, tebal, dan sudah ngaceng keras. Kepala kontolnya mengkilap.
Aku merangkak mendekat, langsung ngisep dalam-dalam. Joko mendengus, tangan besarnya memegang kepalaku.
“Bu… enak banget.”
Aku ngisep rakus, lidah memutar di kepala kontolnya yang asin-manis. Lalu aku telentang, membuka paha lebar. “Masuk. Entot aku keras-keras.”
Joko naik ke atas, kontolnya menyodok memekku dalam satu hentakan. “Aaaahh!” Aku jerit kenikmatan.
Besar banget, penuh banget. Dia ngentot seperti mesin, kuat, cepat, ritme stabil.
Otot perutnya menegang setiap dorongan, keringat baru mulai keluar lagi. Aku cakar punggungnya, “Lebih keras! Rusak memekku!”
Dia balik badanku, doggy style. Tangan besarnya mencengkeram pinggulku, kontolnya menghantam dari belakang tanpa ampun.
Bunyi plok-plok-plok basah memenuhi kamar. Memekku muncrat dua kali, tubuhku gemetar.
Joko mengerang panjang, lalu menyemburkan sperma panas tebal di dalam memekku, banjir sampai menetes keluar.
Kami ambruk. Aku masih terengah, memegang kontolnya yang masih setengah tegang.
“Besok kerjaan kuli kamu selesai. Hubungi aku. Kamu jadi penjaga apartemenku. Gaji besar, tempat tinggal gratis. Tapi setiap aku sange, kamu harus siap ngentot aku. Bisa kapan saja, di mana saja. Ngerti?”
Joko tersenyum lebar, kontolnya berdenyut lagi di tanganku.
“Siap, Bu. Kalau bonusnya kayak gini tiap hari, aku mau jadi budak Bu saja.”
Aku tertawa kecil sambil menggenggam kontol tebalnya lagi.
“Bagus. Sekarang entot aku ronde dua. Kali ini aku mau di atas.”


Posting Komentar untuk "Kuli Kesayanganku"