Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dia Pernah Membuatku Basah.




Scroll Instagram pagi itu langsung berhenti di story teman lama. Foto hitam putih Galu, senyumnya yang dulu bikin basah celana dalamku, sekarang dibingkai bingkai duka. 

“Selamat jalan, bro. Terlalu cepat.” 

Kaget banget rasanya, tanganku gemetar sampe HP hampir jatuh. 

Tapi aku tahu dia sakit. Sudah lama. Sejak kami jarang berhubungan, namanya cuma muncul di pikiran saat malam sepi dan tanganku sendiri tak cukup.

Kami pernah sangat dekat. Terlalu dekat. Dulu, Galu itu cowok yang bikin duniaku penuh warna. 

Badannya tinggi, kulit sawo matang, dan kontolnya… sialan, kontolnya enak banget. 

Tebal, panjang pas, urat-uratnya naik ketika mengeras. Kami pertama kali ngentot di kosannya yang nyaman dan bersih. 

Dia dorong pelan dulu, lalu ganas. Aku menjerit nikmat saat kepala kontolnya nyodok dalam-dalam, menyentuh titik yang bikin mata berkunang-kunang. 

“Enak, Sayang?” bisiknya sambil gigit telingaku. Aku cuma bisa mendesah, “Lebih dalam, Galu… fuck me harder.”

Kami sering banget. Kadang di mobil, kadang di kamar mandi klub, kadang dia datang malam-malam cuma buat ngocok kontolnya di mulutku sampai air maninya muncrat panas di tenggorokan. 

Dia suka doggy, tangannya mencengkeram pinggangku kuat-kuat, kontolnya menghantam ritmis sampai pantatku merah. 

Aku suka rasanya penuh, suka saat dia keluar di dalam tanpa kondom karena “kita saling percaya”. Enak banget. Basah. Panas. Bikin ketagihan.

Tapi karena saking dekatnya, kami sering bertengkar. Cemburu, tuduhan, ego. 

“Lo pasti ngentot sama yang lain!” kataku suatu malam setelah dia telat balas chat. 

Dia marah, “Lo sendiri yang suka main mata!” Akhirnya kami saling tak menghubungi. Blok, unfollow, hilang begitu saja. Dua tahun lebih.

Sekarang, scrolling lebih dalam, aku dengar dia kena HIV. Kabar itu seperti tamparan. 

Aku ingat setiap kali kontolnya masuk tanpa pelindung, setiap tetes spermanya yang kutelan. Was-was langsung menyergap. 

Tenggorokan kering. Perut mual. Apakah aku…? Apakah virus itu sudah diam di tubuhku selama ini, menunggu?

Malamnya aku tak bisa tidur. Bayangan Galu muncul lagi—kontolnya yang dulu bikin aku orgasme berkali-kali, sekarang mungkin sudah jadi penyebab kematiannya. 

Aku takut. Sangat takut. Besok pagi aku harus ke klinik VCT. Tes darah, konseling, nunggu hasil dengan jantung berdegup kencang. 

Kalau positif… entah. Kalau negatif… aku akan syukur, tapi bekas luka tetap ada.

Galu, maaf. Kontolmu memang enak banget, tapi sekarang aku belajar, kenikmatan sesaat bisa meninggalkan luka seumur hidup. 

Aku buka kaki lebar untukmu dulu, sekarang aku buka hati untuk menghadapi kenyataan.

Posting Komentar untuk "Dia Pernah Membuatku Basah."