Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kakak Iparku yang Meresahkan



Pagi masih basah embun ketika aku membuka mata di kamar tamu rumah kakak iparku. 

Ujian masuk kampus kemarin melelahkan, dan dia menawarkan aku menginap beberapa hari. 

Kami memang kerabat, tapi jaraknya jauh. Hanya bertemu sekali setahun saat Natal, saling sapa sopan, lalu kembali ke dunia masing-masing.

Namun pagi ini, dunia terasa miring.

Dari balik tirai jendela kamar, aku melihatnya. Mas Andi, kakak iparku. 

Tubuhnya yang berotot dan berisi sedang membungkuk di depan rumah, menyabuni motor bebek miliknya. 

Shirtless. Hanya memakai celana jeans pendek yang sudah pudar, rendah di pinggul. 

Air sabun mengalir di lekuk-lekuk punggungnya yang lebar, menelusuri otot perut yang tegas, lalu hilang di garis V yang mengarah ke bawah.

Mataku tak bisa lepas.

Bokongnya montok, kencang karena rutin olahraga. Setiap gerakan tangannya menggosok motor membuat otot lengannya menonjol, dan pinggulnya bergoyang pelan. 

Aku membayangkan bagaimana jika hanya memakai sempak hitam ketat. Betapa seksinya garis pinggang itu, betapa menggoda bulu halus yang menjalar dari pusar ke bawah.

Kontolku langsung ngaceng keras di balik celana pendekku. Panas menyengat hingga ke ujung. 

Aku menarik napas tajam, tangan kananku tanpa sadar meremas selimut. 

“Gila… ini kakak iparku,” gumamku dalam hati, berusaha menepis bayangan itu. 

Tapi semakin aku mencoba melawan, semakin jelas bayangannya di kepala: tubuh besar itu menindihku, tangan kasar tapi hangat merayap di kulitku, napasnya yang panas di leherku.

Aku mundur dari jendela, duduk di tepi ranjang dengan jantung berdegup kencang. 

Wajahku panas. Ini salah. Kami masih saudara, meski hanya ipar. Tapi tubuhku tak peduli pada aturan itu. 

Setiap kali aku mengingat lekuk bokongnya yang montok, kontolku berdenyut lagi, menuntut perhatian.

Malam sebelumnya, saat makan malam, Mas Andi hanya memakai kaos longgar dan celana pendek. Kami mengobrol ringan tentang ujianku. 

Suaranya rendah, tenang, tapi ada sesuatu dalam caranya menatapku yang membuat perutku berdesir. 

Atau mungkin hanya perasaanku saja. Dia pria dewasa yang sudah menikah dengan kakakku, meski kakakku sedang dinas ke luar kota seminggu ini.

Aku berjalan ke kamar mandi, mencoba mendinginkan diri dengan air dingin. Tapi bayangan Mas Andi tetap mengikuti. 

Bagaimana kalau aku lolos ujian dan diterima di kampus sini? Apakah aku akan tinggal serumah dengannya? Serumah dengan pria yang tubuhnya saja sudah membuatku basah setiap pagi?

Malam harinya, setelah mandi, aku keluar ke teras. Mas Andi duduk di kursi rotan, masih shirtless, menghisap rokok pelan. 

Cahaya lampu teras menyinari kulitnya yang kecokelatan. Dia menoleh, tersenyum tipis.

“Udah mandi? Mau kopi?” tanyanya lembut.

Aku mengangguk, duduk di sebelahnya. Jarak kami hanya satu lengan. Aroma sabun dan keringat pria dewasa samar-samar tercium. 

Kontolku kembali bereaksi, mengeras pelan di balik celana.

“Kamu… tumben lama nginap di sini,” katanya sambil menatap langit malam.

“Aku… mungkin bakal sering ke sini kalau diterima,” jawabku pelan, suaraku sedikit bergetar.

Dia diam sejenak. Lalu tangannya yang besar menyentuh punggung tanganku sekilas, hangat.

“Kalau gitu, rumah ini juga rumah kamu,” ujarnya pelan, suaranya dalam dan penuh arti. Matanya menatapku lebih lama dari biasanya.

Posting Komentar untuk "Kakak Iparku yang Meresahkan"