Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cowok Ini Nggak Pakai Deodoran Tapi Nggak Bau, Tyo Sampai Curiga: Ada Apa dengan Tubuh Yoga?


Tyo mendekat pelan. Bukan karena mau bisik-bisik atau curhat tengah malam, tapi karena hidungnya bekerja lebih dulu daripada otaknya. Dia mengendus. Sekali. Dua kali.

“Yoga,” katanya sambil menyipitkan mata, “lu pakai deodorant apa, sih?”

Yoga yang lagi duduk selonjoran di lantai kos, cuma ngelirik sekilas. “Hah? Nggak pakai.”

Tyo refleks mundur setengah langkah. “Mustahil.”

Soalnya begini. Cuaca siang itu panas, kosan lagi rame, kipas angin cuma muter angin panas. 

Mereka habis beberes kamar bareng, angkat galon, nyapu, ngos-ngosan. Tyo sendiri sudah mulai merasa ketiaknya mengirim sinyal darurat. 

Tapi Yoga? Kaosnya basah, iya. Tapi bau? Nihil. Netral. Bahkan cenderung… tenang.

“Lu yakin nggak pakai?” tanya Tyo lagi, sekarang terang-terangan mendekat ke ketiak Yoga.

“Woy,” Yoga ketawa. “Nggak. Gue emang jarang pakai.”

Tyo terduduk lemas di kasur. Otaknya berputar. Dalam hidupnya, cowok tanpa deodorant itu identik dengan dua hal: percaya diri berlebihan atau senjata biologis. Yoga jelas bukan dua-duanya.

“Makan kita sama, aktivitas sama, mandi bareng juga—eh maksud gue jadwal mandinya sama,” Tyo mulai ngoceh. “Tapi kok bisa beda?”

Yoga berdiri, ambil handuk, lalu duduk di balkon kecil kosan. Angin sore mulai masuk. “Lu pernah denger soal bakteri kulit?”

Tyo mengernyit. “Ini mau jadi ceramah?”

“Santai,” kata Yoga. “Jadi gini. Keringat itu sebenernya nggak bau. Bau itu muncul karena bakteri. Nah, bakteri di kulit tiap orang beda.”

Tyo melongo. “Kayak sidik jari?”

“Kurang lebih. Terus ada faktor gen juga. Ada orang yang kelenjar keringat apokrinnya lebih aktif. Itu yang bikin bau gampang muncul.”

Tyo menatap ketiaknya sendiri, seolah merasa dikhianati oleh genetika. “Jadi ini bukan salah sabun gue?”

“Belum tentu,” kata Yoga sambil senyum tipis. “Hormon, stres, metabolisme, semuanya ngaruh. Ada orang yang buang sisa metabolisme lewat keringat, ada yang nggak.”

Tyo terdiam. Dunia tiba-tiba terasa tidak adil, tapi masuk akal. “Pantesan pas gue grogi, bau gue beda.”

Yoga ngakak. “Nah, itu. Bau keringat stres itu level lain.”

Angin sore makin adem. Tyo menghela napas panjang. “Berarti bau badan itu bukan cuma soal bersih atau nggak bersih, ya.”

“Bukan,” jawab Yoga. “Tubuh manusia itu lab kimia berjalan. Bahan masuknya mirip, hasil akhirnya bisa beda.”

Tyo mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, dia berdamai dengan kenyataan bahwa tubuhnya bukan rusak—cuma punya resep yang berbeda.

Dan sejak hari itu, Tyo berhenti iri sama orang yang “nggak bau”. Dia cuma mulai lebih paham: setiap tubuh punya cerita, bahkan lewat aroma yang nggak kelihatan.

Posting Komentar untuk "Cowok Ini Nggak Pakai Deodoran Tapi Nggak Bau, Tyo Sampai Curiga: Ada Apa dengan Tubuh Yoga?"